Hidup Lebih Sehat, Produktif, dan Mudah dengan BNI

July 3, 2015 § 1 Comment

107003989

Kisah ini bermula lebih dari sepuluh tahun lalu, ketika saya mulai menjalani aktivitas sebagai dosen baru di Institut Pertanian Bogor (IPB). Sungguh tidak mudah menjalaninya, karena saat itu saya masih tinggal di Jakarta, sementara aktivitas sehari-hari berlangsung di Kampus Dramaga, yang terletak jauh di sudut Kabupaten Bogor. Namun, karena tanggung jawab terhadap pekerjaan, istri dan anak-anak, perjalanan melelahkan pun dilalui dengan segenap hati.

Saat itu, sebagai seorang CPNS, gaji yang saya terima sungguh sangat kecil jumlahnya, jauh di bawah gaji saya saat masih bekerja di sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta. Meskipun demikian, setiap awal bulan tiba, dengan semangat 45 saya pun berjalan menuju gedung rektorat, guna mengambil gaji, upah bekerja selama sebulan.

Ya, benar! Meskipun IPB adalah perguruan tinggi ternama di Indonesia, saat itu penyaluran gaji masih sangat “primitif”, diterimakan secara tunai. Bayangkan, ribuan pegawai IPB, baik dosen maupun tenaga kependidikan, pada hari-hari di setiap awal bulan tumplek blek di lantai 3 gedung rektorat untuk mengambil gaji bulanan. « Read the rest of this entry »

Tahun Ini Urutan Keempat

January 13, 2011 § Leave a comment

Pengumuman 10 Besar Lomba Situs Web IPB 2010
Hasil Perhitungan Webometrics Simulator Software

Kategori Fakultas

Kategori Departemen

Kategori Pusat

Kategori Kantor dan Direktorat/Unit lain

Kategori Lembaga Kemahasiswaan

Kategori Dosen dan Staf

Kategori Mahasiswa

Kategori Program Studi Pascasarjana

Pemenang Piala Bergilir Rektor IPB

Jangan Salahkan Anggota DPR yang Abaikan TKW

November 22, 2010 § Leave a comment

agus safari.jpg

Untuk kesekian kalinya, anggota DPR menuai kecaman dari masyarakat. Kali ini kecaman itu bersumberkan dari sikap rombongan anggota DPR yang dituduh mengabaikan sekitar 150 orang tenaga kerja wanita yang sedang kebingungan di bandara Dubai karena penundaan keberangkatan pesawat ke tanah air.

Menariknya, setelah beberapa hari dihujani kecaman, tak seorang pun anggota rombongan DPR tersebut yang berani menyampaikan pembelaan atau klarifikasi di media massa. Pembelaan hanya muncul dari pimpinan DPR dan anggota DPR lainnya yang mengaku tak ikut serta dalam studi banding tentang rumah susun di Moskow tersebut.

Ketiadaan pembelaan dari para “tertuduh” tersebut membuat masyarakat menjadi tidak menemukan pencerahan mengenai kejadian yang sesungguhnya serta alasan mereka melakukannya. Namun demikian, berdasarkan pengalaman saya, saya berprasangka baik bahwa para anggota DPR tersebut mungkin memiliki alasan kuat untuk tidak mau melangkahkan kaki membantu para pahlawan devisa yang sedang kebingungan di bandara internasional tersebut. « Read the rest of this entry »

Profesor Bukan Gelar Akademis

February 10, 2010 § Leave a comment

Setelah mencuat kasus dugaan plagiarisme seorang profesor di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, istilah profesor menjadi sering disebut. Beberapa artikel ditulis oleh media massa maupun blogger yang juga mengundang tanggapan yang meriah.

Kesalahan penting yang sering dituliskan oleh media massa dan blogger itu adalah anggapan profesor sebagai gelar akademis tertinggi di sebuah perguruan tinggi. Anggapan ini jelas salah, karena gelar akademis tertinggi adalah “doktor”, yang akan diperoleh seseorang bila telah menamatkan pendidikan strata 3, sementara tak ada perguruan tinggi yang akan memberikan gelar “profesor” kepada mahasiswanya yang telah menyelesaikan sebuah jenjang pendidikan.

Guru besar atau profesor sesungguhnya adalah jabatan fungsional dosen. Dalam dunia akademis di Indonesia, dikenal empat jenjang jabatan fungsional yang bisa diraih oleh seorang dosen, yakni: « Read the rest of this entry »

Ribut Gelar Akademik

December 12, 2009 § Leave a comment

Hari-hari ini, Kompasiana, social media yang diasuh oleh Harian Kompas, sedang sibuk meributkan keabsahan gelar akademik seorang kompasianer kondang, seorang dokter di Purwokerto, yang bila gelarnya ditulis semua akan menjadi cukup panjang: Dr.dr. SpB.Onk, FICS, Ph.D, M.Kes. M.Si.

Seorang kompasianer yang sedang menuntut ilmu di Selandia Baru, yang tertarik dengan gelar yang berderet-deret itu mencoba mencari informasi lebih lanjut tentang Sang Dokter. Sayang, pencariannya tampaknya berbuah kekecewaan. Meski ia menemukan banyak nama Sang Dokter di internet, namun hampir seluruhnya hanya nyantol di situs-situs web yang dikategorikannya tak berkualitas. Keanehan ini juga diamini beberapa kompasianer lain, yang berpendapat bahwa sebagai pemegang gelar Ph.D dari universitas bergengsi di Australia, seharusnyalah nama Sang Dokter gampang ditemukan di jurnal-jurnal berkualitas. Seorang kompasianer lain malah rela berpayah-payah mengirim email mengkonfirmasikan kebenaran rekam jejak studi ke perpustakaan almamater Sang Dokter di Negeri Kanguru tersebut.

Meski para kompasianer yang meragukan keabsahan gelar Sang Dokter mengajukan banyak alasan, namun rasa penasaran terhadap (gelar) Sang Dokter barangkali juga dipicu (di antaranya) oleh pencantuman gelar Sang Dokter di depan namanya dalam tulisan-tulisannya di Kompasiana. Meski mungkin banyak kompasianer yang juga telah meraih gelar doktor, namun hanya Sang Dokter inilah yang menuliskan gelarnya. « Read the rest of this entry »

Mimpi Pegawai Negeri Menjadi Menteri

November 17, 2009 § Leave a comment

Kabinet Indonesia Bersatu II jelas-jelas adalah kabinet balas budi. Dari 36 orang menteri dan pejabat setingkat menteri yang telah dilantik, 19 orang di antaranya adalah pengurus partai politik, 11 profesional, 4 militer, dan hanya 2 orang yang berasal dari jajaran birokrasi.

Inkompetensi para menteri

Para menteri dari partai politik itu sebagian besar diyakini tak memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang tugas kementeriannya. Pun andai bidangnya sesuai, kapasitas mereka masih jauh di bawah banyak tokoh lain yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Jadilah, sekian banyak direktur jenderal atau eselon satu lainnya yang setingkat serta bergelarkan profesor doktor dari perguruan tinggi ternama dunia yang tentu saja amat mumpuni dan telah berkutat puluhan tahun dalam bidangnya, tiba-tiba saja harus menerima pimpinan baru lulusan sarjana atau magister dari perguruan tinggi lokal yang acap hanya berakreditasikan “nyaris tak terdengar”. Kondisi menjadi lebih parah lagi bila sudah begitu, latar belakang pendidikan sang menteri baru itu pun amat jauh keterkaitannya dengan mandat kementerian yang dipimpinnya.

Praktik bagi-bagi kekuasaan setiap pergantian kabinet tanpa menghiraukan kapabilitas seperti ini merupakan rutinitas kekecewaan yang harus ditanggung jajaran birokrasi. Belum lagi ditambah praktik serupa dalam penentuan jajaran direksi dan komisaris badan usaha milik negara (BUMN) yang lebih sering mendahulukan kedekatan afiliasi politik dan balas jasa daripada keahlian dan profesionalitas. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Education category at Ali Mutasowifin.