Hidup Lebih Sehat, Produktif, dan Mudah dengan BNI

107003989

Kisah ini bermula lebih dari sepuluh tahun lalu, ketika saya mulai menjalani aktivitas sebagai dosen baru di Institut Pertanian Bogor (IPB). Sungguh tidak mudah menjalaninya, karena saat itu saya masih tinggal di Jakarta, sementara aktivitas sehari-hari berlangsung di Kampus Dramaga, yang terletak jauh di sudut Kabupaten Bogor. Namun, karena tanggung jawab terhadap pekerjaan, istri dan anak-anak, perjalanan melelahkan pun dilalui dengan segenap hati.

Saat itu, sebagai seorang CPNS, gaji yang saya terima sungguh sangat kecil jumlahnya, jauh di bawah gaji saya saat masih bekerja di sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta. Meskipun demikian, setiap awal bulan tiba, dengan semangat 45 saya pun berjalan menuju gedung rektorat, guna mengambil gaji, upah bekerja selama sebulan.

Ya, benar! Meskipun IPB adalah perguruan tinggi ternama di Indonesia, saat itu penyaluran gaji masih sangat “primitif”, diterimakan secara tunai. Bayangkan, ribuan pegawai IPB, baik dosen maupun tenaga kependidikan, pada hari-hari di setiap awal bulan tumplek blek di lantai 3 gedung rektorat untuk mengambil gaji bulanan.

Prosedur yang dilakukan adalah, setiap pegawai yang datang harus menuliskan identitas diri pada sebuah kertas kecil dan menyerahkannya kepada petugas. Langkah selanjutnya adalah menunggu giliran dipanggil untuk menerima amplop berisi uang gaji dan menandatangani tanda terima. Tidak ada informasi apakah pernah ada kejadian jumlah yang tertulis berbeda jauh dengan isi amplop, karena rasanya petugas tidak pernah memberi kesempatan untuk mencocokkannya sebelum meninggalkan tempat.

Tentu saja, sangat lazim uang yang kita terima tidak sama persis dengan jumlah yang tertulis pada amplop kecil yang tampaknya dibuat sendiri dari kertas-kertas yang tidak lagi terpakai. Karena jumlah gaji seringkali tidak bulat, uang yang kita terima kadangkala lebih sedikit beberapa rupiah, demikian pula sebaliknya di waktu yang lain.

Di satu sisi, payday adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Meskipun jumlahnya masih jauh dari mencukupi, setidaknya bisa membantu asap dapur tetap mengebul. Namun, di sisi lain, payday adalah juga hari yang menyebalkan karena asap yang mengebul di mana-mana.

Benar! Saat menunggu giliran menerima amplop gaji, para pegawai biasanya sibuk bercengkerama antarmereka dengan tak henti-hentinya mengebulkan asap rokoknya. Tak pelak, bagi saya yang alergi asap rokok, situasi serupa itu sungguh amat menyiksa. Tidak jarang saya menderita batuk-batuk yang sampai memerlukan obat selepas mengalami “pengasapan” di hari mengambil amplop gaji.

Selain itu, praktik mengambil amplop gaji setiap awal bulan juga mengakibatkan berjam-jam waktu bekerja harus hilang karena digunakan untuk berjalan menuju gedung rektorat, menunggu giliran, serta mengobrol ngalor ngidul yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Belum lagi, waktu dan sumberdaya lain yang digunakan oleh para pengelola gaji untuk membuat ribuan amplop, mencetak rincian gaji, menghitung uang, mencari recehan, dan sederet aktivitas lainnya.

Sesungguhnya, beragam usulan perubahan telah disuarakan, namun beragam argumentasi menentang pun dilontarkan untuk menolak usulan perbaikan proses penyaluran gaji, misalnya melalui rekening bank. Sebagian dari mereka yang menolak perubahan cara penerimaan gaji mengkhawatirkan hilangnya kesempatan melakukan silaturahim dengan kawan-kawannya,  sebagian lagi ada yang tak ingin kehilangan “uang lelaki”, dan sebagian yang lain sudah merasa nyaman memegang amplop uang di tangan.

Praktik semacam itu terus berlangsung hingga saya memperoleh kesempatan tugas belajar, melanjutkan studi ke luar negeri. Karena keluarga tidak turut serta, tentu persoalan amplop gaji ini harus dipastikan aman agar keluarga di Tanah Air tetap tercukupi kebutuhannya.

Untunglah, seorang pegawai di departemen saya tidak keberatan mengambilkan amplop gaji saya setiap bulan. Setelah itu, ia akan menyetorkan uang gaji tersebut ke rekening istri saya. Akan tetapi, entah karena pegawai yang saya mintai tolong sedang sibuk atau lupa, beberapa kali terjadi tidak ada uang gaji yang masuk ke rekening istri saya hingga minggu pertama bulan itu terlewati. Tentu saja, istri saya kelabakan dibuatnya. Memang, proses ini sangat merepotkan, tapi pegawai kecil seperti saya hanya mampu pasrah menerima keadaan.

Hingga kemudian, saat yang membahagiakan itu pun tiba. Dan, kebahagiaan itu datang bersama BNI. Rektor IPB mengumumkan bahwa gaji bulanan tidak lagi diterimakan secara tunai, digantikan dengan penyaluran melalui rekening bank. Seluruh pegawai pun diminta membuka rekening BNI, bank nasional yang telah dipilih oleh IPB menjadi bank operasional.

Kebijakan itu sungguh melegakan. Selain tidak lagi harus terpaksa ikut menghirup asap rokok, istri saya juga tak perlu lagi harus was-was menanti kapan gaji saya disetor tunai ke rekening banknya, sembari berharap pegawai yang saya mintai tolong mengambilkan amplop gaji tidak terlalu sibuk atau lupa menunaikan amanah.

Tentu saja, banyak keuntungan yang dapat diperoleh atas penyaluran gaji melalui rekening bank. Dengan penguasaan teknologi informasi terkini, BNI tidak saja telah mampu menyediakan layanan yang memanjakan nasabah dengan beragam kemudahan, namun juga meningkatkan produktivitas kerja. Waktu berjam-jam yang dahulu harus terbuang saat antre mengambil amplop gaji setiap bulan kini tidak ada lagi, sehingga setiap pekerja berkesempatan menggantinya dengan aktivitas lain yang lebih produktif.

Kebijakan ini juga menurunkan peluang terjadinya kejahatan karena IPB kini tidak perlu lagi menyediakan uang tunai dalam jumlah besar untuk pembayaran gaji, yang biasanya memang mampu mengundang kejahatan.

Beragam manfaat yang dapat dirasakan pada tingkat individu pun tidak sedikit. Berkat internet banking yang disediakan oleh BNI, dari luar negeri tempat saya bermukim, dengan mudah saya dapat mengakses segala transaksi yang terjadi di rekening saya. Sebagai mahasiswa di rantau orang, yang paling dinanti, tentu saja adalah saat pembayaran dana beasiswa dari Pemerintah yang memang disalurkan melalui rekening bank.

Berkat internet banking  pula, tak jarang saya mendapatkan kejutan menyenangkan setelah melihat catatan transaksi rekening BNI saya. Beberapa kali saya terperanjat suka cita saat melihat transaksi kredit masuk ke rekening saya, yang sesekali jumlahnya bahkan mendekati besaran gaji bulanan saya, padahal terjadi bukan pada tanggal saya biasa menerima gaji. Setelah saya telusur keterangannya, ternyata itu adalah tunjangan kinerja, tunjangan kesejahteraan, atau ragam tunjangan lain yang dikirimkan oleh IPB.

Salah satu fungsi penting lain yang saya rasakan dari penggunaan internet banking BNI adalah kemampuannya memantau lalu lintas tulisan saya di media massa nasional. Bagaimana bisa? Sebagai seorang dosen yang memiliki hobi menulis, saya banyak menulis artikel yang kemudian saya kirimkan ke beragam media massa melalui email. Namun, karena kendala teknis, tak mungkin bagi saya yang tengah jauh dari Tanah Air untuk memantau keberhasilan artikel-artikel yang saya kirimkan tersebut, apakah berhasil dimuat atau tidak.

Yang biasanya terjadi, saya mendapati transaksi kredit dengan keterangan dari penerbit surat kabar/majalah sebagai honorarium artikel saya yang telah dimuat. Biasanya, setelah mengetahui ada honor tulisan masuk seperti itu, kemudian saya sibuk mencari tahu, artikel berjudul apa serta dimuat tanggal berapa. Alhamdulillah, hingga saat ini, telah puluhan artikel saya yang dimuat di Harian Kompas, Bisnis Indonesia, Kontan, Majalah Infobank, serta beragam portal media daring terkemuka.

Beragam contoh di atas tentu dapat dilengkapi dengan fitur-fitur lain yang juga telah memberikan kemudahan kepada nasabah, seperti transfer, pembelian voucher prabayar, serta beragam jenis pembayaran, yang semuanya dapat diselesaikan tanpa harus keluar rumah.

Mungkin BNI bukanlah bank beraset terbesar atau peraih laba tertinggi di Tanah Air, namun jelas BNI dengan beragam inovasi dan teknologi tinggi yang disediakannya telah membuat hidup saya sekeluarga sebagai nasabah BNI menjadi lebih mudah dan nyaman, meskipun kami sedang menjalani LDR, long distance relationship.

 

credit photo: panoramio.com

Advertisements

One thought on “Hidup Lebih Sehat, Produktif, dan Mudah dengan BNI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s