Internal Entrepreneurs di Garis Depan

December 14, 2014 § Leave a comment

IMG-20141016-00019

Barangkali karena latar belakangnya sebagai pengusaha, Presiden terpilih Joko Widodo getol mempromosikan beragam upaya untuk memperluas pasar produk Indonesia di luar negeri. Karena menyadari pentingnya pemasaran dalam peta persaingan global saat ini, mantan Gubernur DKI Jakarta ini bahkan berencana memilih orang-orang yang piawai dalam bidang pemasaran sebagai anggota kabinetnya.

Selain itu, salah satu idenya yang konsisten disuarakan sejak kampanye adalah keinginan menjadikan perwakilan-perwakilan Indonesia di luar negeri sebagai garda terdepan dalam pemasaran produk-produk unggulan Tanah Air. Ia bahkan pernah memberi ancar-ancar, kelak 80 persen dari aktivitas para duta besar adalah melakukan diplomasi perdagangan.

Tentu tak mudah untuk merealisasikan harapan Presiden terpilih yang pengusaha mebel ini. Setidaknya, beragam kondisi internal perlu dicermati agar harapan menjadikan perwakilan kita di luar negeri, yang di jajaran Kementerian Luar Negeri saja saat ini berjumlah 132 buah, sebagai kantor pemasaran yang efektif untuk mempromosikan produk-produk dalam negeri dapat diwujudkan.

Transformasi yang paling sulit adalah dalam bidang sumberdaya manusia. Telah jamak dimengerti, tidaklah mudah mengubah pikiran, gaya dan kebiasaan seseorang. Seorang diplomat, yang merupakan birokrat utama dan terbiasa bergaya bak menak, tak akan mudah berubah menjadi pemasar yang harus rajin turun ke lapangan menjajakan barang dagangan. Apalagi, para diplomat biasanya kurang memperoleh bekal memadai guna memahami seluk beluk bisnis dengan baik.

Yang juga penting untuk diperhatikan adalah perlunya menyediakan lingkungan yang nyaman bagi bertumbuhkembangnya internal entrepreneurs di dalam birokrasi, yang biasanya telah dipagari dengan budaya dan beragam aturan yang kaku. Internal entrepreneurs, mereka yang bekerja dalam organisasi mapan namun memiliki cara pikir, kebiasaan, dan perilaku bak seorang entrepreneur (wirausahawan), haruslah merasa nyaman dan bebas mengembangkan gagasan dan kreasinya.

Para diplomat, dengan demikian perlu dibebaskan dari mentalitas penumpang (passenger mentality) yang terbiasa dituntun, kurang kreatif dan terima beres, dan didorong menjadi internal entrepreneurs yang memiliki mentalitas pengemudi (driver mentality) yang biasanya lebih berinisiatif dan berani mengambil keputusan (Kasali, 2014).

Perlu transformasi

Akan tetapi, acap terjadi Internal entrepreneurs mungkin berpikir telah berinovasi, menemukan sesuatu yang baru, baik produk, sistem, proses, program, dan sejenisnya, yang diyakini akan berdampak bagi bisnis, namun mereka tetap digelayuti keraguan dalam melangkah. Keraguan ini dapat dimengerti karena biasanya tetap ada risiko bagi diri dan organisasi yang membayangi setiap langkah yang dipilih, sementara selama ini jajaran birokrasi bisa dikatakan senantiasa bekerja dalam zona nyaman dan tanpa risiko yang berarti.

Memang, seperti halnya wirausahawan, internal entrepreneurs pun menghadapai serangkaian risiko, walaupun organisasi tempat mereka bekerja telah mendorong para pegawainya untuk lebih kreatif, inovatif, serta berani bertindak selayaknya seorang wirausahawan sejati. Namun, berlainan dengan wirausahawan yang lebih sering berkutat dengan persoalan uang, waktu, opportunity cost, dan sejenisnya, risiko yang dihadapi internal entrepreneurs lebih banyak menyangkut hubungan sosial di dalam organisasinya .

Selain itu, apabila wirausahawan lebih sering disibukkan dengan masalah bagaimana memperoleh aset, bahan baku, atau sumberdaya lainnya yang lebih baik dan murah, internal entrepreneurs lebih disibukkan dengan upaya pencarian mitra kerja yang mau dan mampu berjalan beriringan serta atasan yang mendukung. Patut digarisbawahi di sini, internal entrepreneurs tidak saja memerlukan dukungan fisik, namun juga dukungan emosional. Mereka memerlukan mitra dan atasan yang dapat diajak berdiskusi, mengeksplorasi, dan mengeksekusi gagasan-gagasan yang berkembang.

Tentu saja, perubahan yang berlangsung di perwakilan-perwakilan di luar negeri seharusnya juga diikuti, bahkan diawali, dengan perubahan serupa di Kantor Pusat, Jakarta. Namun, mengubah arah pendulum perwakilan di luar negeri yang semula bertitik berat di ranah politik menjadi berfokuskan bidang ekonomi dan perdagangan membutuhkan transformasi dalam beragam bidang yang terencana dan terus-menerus. Apalagi, seperti dikemukakan Schlesinger dan Kiefer (2014), sebuah organisasi bisa membutuhkan waktu 10 kali lebih lama dibandingkan dengan yang diperlukan oleh orang untuk berubah.

Selain itu, perlu diperhatikan pula sinergi dan kerjasama dengan lembaga-lembaga yang selama ini telah ada dan telah menjalankan tugas sebagai perwakilan perdagangan negara di luar negeri, meski mungkin kinerjanya selama ini dipandang kurang optimal oleh Joko Widodo.
Dengan persiapan dan koordinasi yang baik, diharapkan institusi maupun sumber daya manusia yang ada akan lebih siap dan sigap mengemban tugas baru, menjadi pemasar di garis depan bagi produk-produk unggulan Tanah Air di manca negara.

Artikel ini telah dipublikasikan di Harian Kontan, 16 Oktober 2014

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Internal Entrepreneurs di Garis Depan at Ali Mutasowifin.

meta

%d bloggers like this: