Magnet Purnawirawan

IMG-20140711-00418

Pada 9 Juli mendatang rakyat Indonesia akan memiliki dua pilihan pasangan capres-cawapres, yakni pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang didukung oleh PDIP, Nasdem, PKB, Hanura, dan PKPI berhadapan dengan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang disokong Gerindra, PAN, PPP, PKS, PG, dan PBB.

Yang menarik, setiap kali membahas pilihan capres-cawapres, hampir selalu variabel militer dan non militer ikut menjadi pertimbangan. Kombinasi yang sering dikesankan ideal oleh sebagian orang adalah capres-cawapres yang berlatar belakang militer berpasangan dengan sipil atau sebaliknya.

Seperti digambarkan oleh beragam survei, masih banyak orang yang meyakini figur purnawirawan tentara masih dibutuhkan dalam kancah politik negeri saat ini. Dalam beberapa hal, orang yang pernah bertugas di ranah kemiliteran dianggap lebih tegas, lebih menjamin rasa aman, serta beragam karakteristik unggul lainnya dibandingkan mereka yang tidak pernah mengenakan seragam tentara.
Itulah juga sebabnya, ketika serombongan mantan jenderal mendeklarasikan dukungan kepada seorang calon presiden, media massa pun mempublikasikannya secara luas dan dengan cerdik juga dikapitalisasi sebagai tambahan modal politik oleh sang calon presiden. Dukungan kalangan purnawirawan tentara dikesankan tampak lebih berat bobotnya dibandingkan serangkaian dukungan dari kalangan sipil.
Karakteristik purnawirawan di bisnis

Peran mantan tentara bukan hanya menonjol di bidang politik, namun juga mudah dijumpai di dunia bisnis. Begitu mengakhiri karier militernya, para purnawirawan, dari tingkat paling bawah hingga paling tinggi, biasanya segera menemukan kesibukan baru dalam dunia bisnis. Bahkan, mereka yang ketika aktif di militer menjabat perwira tinggi, biasanya segera direkrut menjadi direksi atau komisaris perusahaan-perusahaan besar, atau mendirikan usaha sendiri.

Tentu terdapat beragam alasan sebuah perusahaan merekrut purnawirawan tentara pada jajaran direksi atau komisaris. Dengan pengaruh dan jejaring yang dimilikinya, purnawirawan tentara diharapkan mampu memperlancar segala urusan dan menyingkirkan rintangan yang dihadapi oleh korporasi. Apalagi, dalam kondisi sosial dan budaya di negeri kita saat ini, “keberanian dan ketegasan” militer masih “ditakuti” dan karenanya sangat dibutuhkan untuk mengatasi beragam hambatan, baik yang berasal dari kalangan pemerintahan maupun kalangan masyarakat yang acapkali dihadapi oleh para pebisnis.

Berkaitan dengan karakteristik pensiunan militer, menarik memperhatikan hasil penelitian Benmelech dan Frydman. Dengan menggunakan data perusahaan yang masuk Forbes 800 serta survei identifikasi CEO yang dilakukan Execucomp, kedua peneliti itu membuat perbandingan antara perusahaan yang dipimpin oleh mantan tentara dan perusahaan yang dijalankan oleh mereka yang tidak pernah menjalani dinas ketentaraan.

Hasil penelitian mereka menggambarkan bahwa CEO berlatar belakang tentara dianggap lebih mampu bertahan di bawah tekanan. Kualitas ini dianggap lebih diperlukan oleh perusahaan-perusahaan yang sedang mengalami distres, atau perusahaan yang beroperasi pada industri yang sedang dalam kondisi distres. Hal ini diyakini dipengaruhi oleh pelatihan dan pengalaman militer yang sering berada dalam beragam tekanan dan situasi yang sulit.

Penelitian itu juga mendapati bahwa para CEO yang pernah bertugas di lingkup ketentaraan lebih konservatif dalam pengambilan kebijakan investasi serta lebih kecil kemungkinan melakukan penyelewengan di bidang keuangan.

Menurunnya peran purnawirawan

Meskipun pensiunan tentara dianggap memiliki kualitas unggul dalam memimpin bisnis, jumlah mereka terus menurun. Gretchen Gavett menulis pada Harvard Business Review, pada 1980 hampir 60% perusahaan publik berskala besar di Amerika Serikat dipimpin oleh laki-laki yang pernah berdinas militer. Namun, pada 2006 jumlah perusahaan yang memiliki CEO berlatar belakang tentara merosot tajam menjadi hanya 6,2%.

Jumlah tersebut sesungguhnya merefleksikan kondisi kependudukan Amerika Serikat. Saat usai Perang Dunia II, jumlah personel tentara Amerika Serikat lebih dari 12 juta, namun jumlah itu terus menurun dramatis sejak usai Perang Vietnam, selaras dengan gambaran jumlah CEO berlatar belakang tentara tersebut.

Sayang, sementara para pensiunan militer yang terjun ke dunia politik mudah diamati, tak ada data pasti jumlah purnawirawan tentara yang berkiprah dalam dunia bisnis di Indonesia. Namun, bercermin pada sejarah perpolitikan di tanah air terkini, seperti sering diungkapkan oleh banyak pengamat, keyakinan bahwa pensiunan militer lebih tegas dan efektif daripada sipil sesungguhnya lebih mendekati ilusi. Terdapat beragam contoh pemimpin negeri berlatar belakang militer yang sering dianggap lamban bertindak dan peragu, sementara banyak contoh pemimpin tanpa latar belakang tentara justru menunjukkan kecepatan dan ketegasan dalam kepemimpinannya.

Dalam dunia bisnis di tanah air pun, aturan-aturan bisnis seharusnyalah dirancang adil, transparan dan seefisien mungkin, serta diimplementasikan dengan semangat yang sama. Dengan demikian, kalaupun ada kehadiran purnawirawan tentara dalam jajaran pimpinan badan usaha, seharusnyalah eksistensi mereka tidak diniatkan untuk menerabas aturan, menakut-nakuti, atau memangkas hambatan birokrasi usaha, namun lebih karena mereka memang memiliki kualifikasi pribadi yang mumpuni yang dibutuhkan korporasi.

Artikel ini telah dipublikasikan pada Majalah Infobank, edisi Juli 2014.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s