Makna Penting Financial Literacy untuk TKI

January 12, 2014 § Leave a comment

IMG-20131219-00256

International Organization for Migration mengungkapkan sekitar 500.000 TKI diberangkatkan ke luar negeri setiap tahun, dan setengahnya menjadi korban perdagangan manusia. Setiap tahun, jumlah ini terus bertambah seiring terus berlangsungnya pengiriman TKI ke beberapa negara di Asia, Eropa, dan wilayah lain.

Data itu mengonfirmasi buruknya penanganan TKI selama ini, sejak sebelum berangkat hingga pulang, meskipun telah diurus oleh kementerian dan badan yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Akibatnya, setiap saat kita disuguhi beragam berita memilukan nasib TKI di luar negeri.

Kemiskinan dan langkanya pekerjaan menjadi alasan banyak orang meninggalkan sanak keluarga untuk menjadi buruh migran. Yang menarik, banyak yang tidak merasa cukup terpenuhi kebutuhan ekonominya dengan satu kali masa kontrak kerja. Bahkan, banyak yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya memburuh di negeri orang.


Selama ini, hampir semua TKI mengirimkan sebagian upahnya ke tanah air. Tahun ini, misalnya, BNP2TKI memperkirakan, devisa dari sekitar empat juta TKI di berbagai negara Asia dan Eropa mencapai Rp 100 trilun.

Namun, uang kiriman itu sering digunakan tidak tepat sasaran. Selain untuk kebutuhan sehari-hari dan melunasi hutang, uang kiriman seringkali berubah wujud menjadi aktiva yang konsumtif dan tidak produktif, seperti rumah mewah, sepeda motor, kulkas, televisi, dan sejenisnya.

Ketika selesai masa kontrak kerja dan kembali ke tanah air, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk hidup kecuali membelanjakan simpanan hasil memeras keringat bertahun-tahun. Ketika simpanan habis terkuras dan harta benda ludes terjual, pilihan yang tersedia hanya kembali merantau.

Financial illiteracy TKI

Permasalahan ini terkait dengan rata-rata financial literacy TKI yang rendah. Mengacu survei Bank Dunia (2009), 32% atau sekitar 76 juta penduduk sama sekali belum tersentuh jasa keuangan (financially excluded).

Data OJK malah lebih memprihatinkan. Dari Survei Nasional Literasi Keuangan atas 8.000 respoden di 27 provinsi, didapati 75,69% masyarakat Indonesia belum paham produk dan jasa keuangan, 2,06% kurang paham, dan 0,41% tidak paham sama sekali. Dengan demikian, hanya 21,84% masyarakat yang well literate dengan indeks utilitas 59,74%.

Terkait jasa perbankan, Sharing Vision mencatat, 68% dari 246,9 juta penduduk Indonesia belum memiliki rekening bank, 80% penduduk berusia 15 tahun ke atas belum tersentuh layanan perbankan, dan 52% rumah tangga belum memiliki simpanan di lembaga keuangan.

Pada UMKM, hanya 30%-40% memiliki akses ke perbankan, padahal hampir 53 juta masyarakat miskin menggantungkan harapan hidup pada mereka. Financial illiteracy juga diyakini lebih tinggi di wilayah pedesaan, yang justru merupakan kantong pemasok TKI. Padahal, pengetahuan yang baik cara memanfaatkan jasa keuangan dalam mendayagunakan uang hasil bekerja akan dapat menolong mereka berusaha mandiri dan mengurangi hasrat untuk kembali keluar negeri.

Menjadikan TKI well literate

Patut diapresiasi Cetak Biru Strategi Nasional Literasi Keuangan OJK, yang pilar utama pertamanya adalah edukasi dan kampanye literasi kepada ibu rumah tangga, calon dan TKI, pelajar, mahasiswa, majelis taklim, pesantren, dan UMKM.

Perbankan dapat meningkatkan literasi keuangan pada (calon) TKI dengan penyuluhan dan pelatihan. Untuk ini, perlu diingat saran Bank Dunia dalam World Financial Development Report 2013, bahwa pendidikan keuangan berbasis kelas hanya berdampak sangat kecil, dibandingkan belajar selama “teachable moments”, seperti saat hendak bekerja atau memperoleh pinjaman. Studi ini relevan, karena justru pada masa-masa seperti itulah banyak (calon) TKI terjebak beragam persyaratan yang menjerat mereka bahkan hingga bertahun-tahun berikutnya.

Keberhasilan financial inclusion di kalangan TKI juga akan menguntungkan perbankan. Karena memiliki pengetahuan dan akses yang lebih baik pada lembaga intermediasi keuangan, mereka dapat memanfaatkan dana simpanan dengan lebih produktif, misalnya untuk modal memulai atau mengembangkan usaha.

Potensi dana masyarakat yang belum mengenal perbankan saat ini diperkirakan Rp 100 triliun, namun yang terhimpun baru Rp 3,2 triliun dari 3 juta rekening nasabah melalui produk Tabunganku. Karenanya, perbankan juga diuntungkan dari meningkatnya literasi keuangan TKI, baik dari sisi pendalaman pasar keuangan (financial deepening) dalam penghimpunan dana maupun penyaluran kredit.

Dari aspek ekonomi makro, financial inclusion ini juga meningkatkan kontribusi perbankan dalam pembangunan ekonomi, sehingga rasio simpanan atau penyaluran kredit terhadap PDB yang saat ini masing-masing baru 37,50% dan 29,62% diharapkan akan meningkat.

artikel ini telah dipublikasikan di harian Kontan, 19 Desember 2013.

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Makna Penting Financial Literacy untuk TKI at Ali Mutasowifin.

meta

%d bloggers like this: