Pegadaian Bukan Hanya Gadai

pegadaian di kontan

Belum lama berselang, dua perusahaan plat merah melakukan dua aksi korporasi yang berlawanan.Yang pertama adalah PT Telkom Tbk yang memutuskan untuk menjual 80% saham televisi kabel miliknya, Telkomvision, ke Trans Media, salah satu divisi Trans Corp milik pengusaha media Chairul Tanjung.

Telkom beralasan, dengan melepas sebagian besar sahamnya di Telkomvision, Telkom dapat lebih fokus sebagai penyedia infrastrukturnya, sementara Trans Media akan bertindak sebagai penyedia konten. Dengan demikian, di tengah persaingan bisnis televisi kabel yang semakin sengit, Telkomvision diharapkan akan dapat lebih berkembang di masa depan.

Upaya merambah bisnis non gadai

Namun demikian, langkah berbeda justru diambil oleh PT Pegadaian. Perusahaan yang memiliki kompetensi utama di bidang gadai ini malah berencana membangun hotel berbintang tiga di sejumlah kota di Tanah Air. PT Pegadaian beralasan, pembangunan hotel akan dapat mengoptimalkan produktivitas aset-aset perusahaan, yang pada 2012 telah mencapai Rp 29 triliun.

Rencana PT Pegadaian untuk merambah bisnis selain gadai sesungguhnya dapat dimengerti. Dahulu, satu-satunya perusahaan yang secara resmi melayani gadai hanyalah PT Pegadaian. Namun, kini hampir seluruh bank syariah juga melayani gadai, sebuah kenyataan yang tentunya menggerus pasar yang dahulu merupakan monopoli PT Pegadaian.

Kesadaran perubahan lanskap persaingan ini pulalah yang membuat PT Pegadaian sejak beberapa tahun lalu memutuskan membuka business line “usaha lain”, dengan menyalurkan kredit untuk usaha maupun konsumsi di luar gadai. Namun demikian, terkesan “usaha lain” ini masih sekedar tempelan dan kurang digarap serius.  Hal ini ditunjukkan oleh kebijakan organisasi dan career path bisnis “usaha lain” yang masih seperti anak tiri dibandingkan bisnis gadai.

Para pegawai yang menggawangi “usaha lain” pun masih dicomot dari bisnis gadai, yang apabila berkeinginan mencapai jenjang karir lebih tinggi akan harus kembali ke jalur gadai. Selain mindset mereka masih akan tetap gadai ketika harus menyalurkan kredit, kondisi ini juga menegaskan posisi gadai sebagai anak emas, sementara lini “usaha lain” hanyalah sekedar tempelan. Tak heran, non performing loan “usaha lain” pun saat ini masih menjulang tinggi, jauh di atas rata-rata perbankan.

Padahal, upaya PT Pegadaian memasuki bisnis baru dengan menyalurkan kredit tidaklah akan mudah di tengah ekspansi kredit perbankan di sektor mikro. Apalagi setelah muncul beleid baru Bank Indonesia yang menggariskan 20% dari kredit yang disalurkan perbankan haruslah ditujukan untuk sektor UMKM. Belum lagi PT Pegadaian juga masih harus menghadapi persaingan yang ketat dengan pemain-pemain lama yang selama ini telah menyalurkan kredit ke sektor UMKM, baik lembaga keuangan mikro, bank perkreditan rakyat, maupun bank umum.

Pengembangan bisnis selaras kompetensi

Salah satu keunggulan PT Pegadaian adalah jaringannya yang amat luas, meliputi tidak kurang 4.550 outlet yang tersebar di 909 kantor cabang dan 12 kantor wilayah di seluruh penjuru Tanah Air. Alih-alih merambah bisnis hotel yang jauh dari kompetensinya, PT Pegadaian seharusnyalah meluaskan bidang bisnis dengan tetap memperhatikan keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya.

Dengan keunggulan jaringan yang ada, salah satu bisnis yang seharusnya dikembangkan oleh PT Pegadaian adalah yang berkaitan dengan logistics management. Meskipun telah banyak pemain lama yang berkecimpung di bisnis ini, namun dengan keunggulan jaringan yang dimilikinya PT Pegadaian diyakini akan mampu menawarkan pelayanan yang lebih baik.

Selain itu, dengan pengalaman menyimpan barang-barang yang digadaikan serta jumlah outlet yang sangat banyak, PT Pegadaian juga dipercaya memiliki keunggulan di bidang storage management. Keahlian ini akan dapat menjadi modal dasar bagi pengembangan usaha di luar penyimpanan barang gadai yang telah berlangsung selama ini.

Dengan mengembangkan bisnis pada bidang-bidang di mana PT Pegadaian memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, selain peluang keberhasilan akan lebih besar, risiko bisnis yang akan ditanggung diharapkan juga akan lebih rendah dibandingkan apabila perusahaan plat merah ini menerjuni bisnis yang jauh dari kompetensi yang dikembangkannya selama ini.

Artikel ini telah dipublikasikan di Harian Kontan, 20 Juni 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s