Ramadan Bukan Hanya Satu Bulan

Beberapa hari lalu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meningkatkan status kasus Hambalang dari penyelidikan menjadi penyidikan, sekaligus menetapkan tersangka pertamanya. Sebelumnya, KPK juga telah mengungkap korupsi dalam pengadaan kitab suci Al Quran di Kementerian Agama.

Pengungkapan kasus-kasus itu juga seolah mengkonfirmasi kebenaran laporan Transparency International yang menempatkan Indonesia tahun lalu pada peringkat 100 dari 183 negara yang disurvei dalam daftar Indeks Persepsi Korupsi (IPK), jauh di bawah beberapa negara tetangga seperti Singapura, Brunei, Malaysia, atau Thailand.

Pesan yang tertangkap dari hasil IPK itu adalah tidak adanya perubahan signifikan dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Metode pengukuran IPK mensyaratkan kriteria yang dapat menunjukkan indikasi perubahan persepsi korupsi antartahun (2010 dan 2011) dengan perubahan skor minimal 0,3 serta didukung oleh perubahan yang konsisten (searah) dari minimal setengah dari sumber data penyusun IPK. Perubahan skor 0,2 untuk Indonesia antara tahun 2010 dan 2011 tidaklah berarti apa-apa secara metodologi, alias pemberantasan korupsi berjalan di tempat.

Deretan kasus rasuah yang telah berhasil dibongkar selama ini pun dipercayai hanyalah fenomena gunung es dari praktik korupsi yang telah marak di segala lapisan kehidupan. Kondisi ini menunjukkan betapa praktik-praktik keberagamaan kita selama ini baru menyentuh aspek kulit luarnya saja, dan belum mampu merengkuh esensi yang lebih dalam dari setiap firman Illahi. Padahal, Islam telah begitu lengkap menuntun perilaku kita agar mampu meniti kehidupan serta senantiasa terjauhkan dari dosa.

Salah satu praktik beragama yang marak di tanah air adalah puasa Ramadan. Meskipun seringkali aktivitas ekonomi serta hiburan yang menyertainya lebih heboh dibandingkan esensi yang diharapkan, sesungguhnya terdapat banyak pelajaran penting yang dapat kita raih dari pelaksanaan puasa Ramadan.

Selama Ramadan, sejak Shubuh menjelang hingga matahari terbenam, kita dilarang makan, minum, serta melakukan hubungan hubungan suami-istri. Selama satu bulan penuh itu kita dilatih untuk senantiasa mampu menahan hawa nafsu kita. Bila puasa Ramadan diibaratkan pelatihan, maka selama tiga puluh hari itu kita digembleng agar menjadi pribadi yang lebih lebih tangguh dalam menghadapi setiap tantangan dan cobaan.

Saat berpuasa, meskipun di hadapan kita terhidang makanan serta minuman milik kita dan halal, terlarang bagi kita untuk memakan dan meminumnya. Apabila latihan semacam ini mampu kita jalani dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan, maka ketika Ramadan telah usai diharapkan benteng keimanan kita telah menjadi lebih kuat, sehingga akan lebih mudah untuk menolak segala makanan dan minuman yang tidak halal.

Larangan ini juga dapat dimaknai, agar kita hanya mengambil apa yang halal dan menjadi hak kita. Saat berpuasa, makanan dan minuman yang halal dan milik kita saja menjadi terlarang untuk dikonsumsi, apatah lagi yang haram dan bukan milik kita. Salah satu sebab korupsi merajalela di negeri kita adalah karena kita telah terbiasa dan tidak merasa berdosa saat mengambil apa-apa yang haram dan bukan menjadi hak kita.

Selain larangan makan dan minum, saat sedang berpuasa Ramadan kita juga dilarang melakukan hubungan suami-istri. Hikmah yang diharapkan adalah, apabila selama satu bulan kita telah berlatih menahan nafsu syahwat dengan tidak menggauli pasangan kita, meskipun mereka adalah suami/istri kita yang sah, setelah Ramadan berlalu tentunya akan lebih mudah bagi kita untuk menahan diri, dan tidak terperosok ke dalam jurang pergaulan bebas. Latihan ini tentu lebih bermakna lagi bagi pasangan yang sedang menjalani long-distance relationship.

Fenomena yang menyedihkan adalah, selama bulan Ramadan biasanya kita mampu menjalankan PREMIUM (prei makan dan minum), SOLAR (sholat lebih rajin), MINYAK TANAH (meningkatkan iman dan banyak tahan nafsu dan amarah), serta PERTAMAX (perangi tabiat maksiat), namun begitu Ramadan usai kita kembali mengakrabi segala perilaku maksiat. Seolah-olah, menjadi orang saleh cukup hanya di bulan Ramadan saja.

Anggapan itu tentu saja keliru. Kualitas yang telah kita raih selama Ramadan, seharusnyalah terus kita bawa dan bahkan menjadi dasar dalam menjalani sebelas bulan berikutnya. Agar kita tak terjerumus kembali kepada segala perilaku maksiat yang pernah kita akrabi sebelum menjalani puasa Ramadan, sebaiknyalah kita senantiasa mengingat nasihat Rasulullah bahwa “Jika hari ini kita lebih baik daripada kemarin, maka kita termasuk orang yang beruntung. Akan tetapi, jika hari ini kita sama dengan kemarin, maka kita termasuk orang yang merugi. Dan apabila hari ini lebih buruk daripada kemarin, maka kita termasuk orang yang dilaknat.”

This article is originally posted here.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s