Konflik Pengupahan dan Transparansi Keuangan

Seolah telah menjadi rutinitas tahunan, setiap menjelang akhir tahun hingga masa-masa awal tahun sering ditandai dengan demonstrasi buruh di segenap penjuru negeri. Pada masa-masa itu, buruh di berbagai daerah kerap berunjuk rasa bahkan melakukan pemogokan untuk mendesakkan tuntutan jumlah upah yang mereka inginkan.

Setidaknya terdapat tiga titik kritis yang biasanya dapat mencuatkan perselisihan pengupahan. Titik kritis pertama adalah saat penentuan angka kebutuhan hidup layak (KHL). Jamak terjadi, survei yang dilakukan oleh Dewan Pengupahan Daerah tidak dapat berjalan mulus karena beragam perbedaan antara teori dan praktik di lapangan, serta perbedaan kepentingan para pihak lainnya.

Misalnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan serikat buruh belum bersepakat mengenai komponen tempat tinggal rumah bertipe 21, yang saat ini tentu sudah sulit untuk ditemui, sehingga banyak buruh yang memilih tinggal di rumah kontrakan. Continue reading

Advertisements

Jambul Katulistiwa

Salah satu cara untuk memenangkan persaingan dalam kompetisi yang semakin ketat adalah melakukan diferensiasi. Hal ini tampaknya disadari benar oleh penyanyi Syahrini. Sadar tak cukup mengandalkan olah vokal untuk mengerek ketenaran, penyanyi asal Bogor ini kerap muncul dengan gaya busana, tata rambut, serta ucapan-ucapan yang unik.

Lihatlah misalnya, tata rambutnya yang aneh dijulukinya “jambul katulistiwa”, gaya yang lain lagi disebutnya “terowongan casablanca”. Ia juga tenar karena mempopulerkan ujaran-ujaran khas dengan gayanya yang kenes semisal “Alhamdulillah ya…” atau “sesuatu”. Terbukti, dengan cara demikian, meski prestasi menyanyinya tidak luar biasa, ia tetap selalu disebut dan beredar di kancah dunia hiburan tanah air.