Nasib Usaha dan Ketergantungan pada Persona

July 21, 2011 § Leave a comment

Penampakan Misbakhun, mantan anggota FPKS DPR RI, di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta menimbulkan kehebohan. Misbakhun yang divonis kurungan 2 tahun penjara terkait kasus pemalsuan pencairan deposito dalam penerbitan fasilitas letter of credit (L/C) Bank Century dan tengah menjalani masa asimilasi dianggap tidak seharusnya dapat berjalan-jalan bersama keluarga di sebuah pusat perbelanjaan.

Kehebohan pemunculan Misbakhun itu juga mencuatkan kembali nasib buram usaha yang dimilikinya. Pabrik agar-agar PT Agar Sehat Makmur Lestari (ASML) milik mantan pegawai Ditjen Pajak itu tutup sejak sang pemilik menjalani proses hukum. Ratusan karyawan pun terpaksa dirumahkan karena pabrik yang berada di Desa Bakalan, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan itu sudah tidak berproduksi. Bahkan sebagian besar gaji para karyawannya hingga kini juga belum dilunasi oleh perusahaan.

Apa yang terjadi pada PT Agar Sehat Makmur Lestari yang limbung setelah pemilik atau tokohnya terbelit masalah bukanlah kasus tunggal. Contoh gamblang lainnya berkaitan dengan Nazaruddin. Akhir-akhir ini media massa kerap menyebut sederet nama perusahaan yang selama ini menempatkan mantan bendahara umum Partai Demokrat itu sebagai tokoh utamanya.

Dari sejumlah perusahaan yang dimilikinya, Nazaruddin merancang setiap perusahaan dengan spesialisasi khusus untuk meraih peluang-peluang usaha dari kementerian, lembaga negara, atau BUMN yang sesuai dengan spesialisasinya. Menyususl kasus hukum yang membelit sang godfather, dapat dipastikan bahwa perusahaan-perusahaan yang semula selalu menjuarai seiap pelaksanaan tender tersebut akan kesulitan mengulangi kesuksesannya, bahkan mungkin akan masuk daftar hitam.

Contoh berikutnya adalah apa yang terjadi pada Yayasan Daarut Tauhiid (DT), milik dai kondang asal Bandung K.H. Abdullah Gymnastiar. Merebaknya kabar Aa Gym, panggilan akrab sang dai, yang berpoligami pada akhir 2006 mengguncang pondok pesantren yang dipimpinnya.

Keputusan Aa Gym menikahi Elfarini Eridani memang membuat jemaah DT yang sebagian besar terdiri atas ibu-ibu kecewa dan kemudian meninggalkan kegiatan DT. Aksi tersebut langsung berdampak pada pendapatan bisnis yang kala itu sedang berada di puncak dengan pendapatan mencapai Rp 16 miliar, anjlok hingga 50%. Keputusan Aa Gym beberapa bulan berselang untuk menceraikan Ninih Mutmainah, istri pertamanya yang telah memberinya tujuh orang anak, diyakini juga akan memiliki dampak signifikan pada usaha yang dirintis sejak 21 tahun lampau itu.

Terdapat persamaan utama ketiga kasus di atas. Dalam kasus pertama dan kedua, perusahaan tersebut tampak sangat bergantung kepada sosok Misbakhun dan Nazaruddin dengan segala pengaruh politik yang dimilikinya sebagai anggota DPR RI maupun tokoh partai politik yang sedang berkuasa, baik untuk sumber pendanaan maupun raihan peluang-peluang usaha. Dalam kasus PT ASML, dibuinya sang tokoh sentral membuat perusahaan itu seketika berhenti beroperasi dan harus merumahkan para karyawannya.

Sementara, perubahan status Nazaruddin dari seorang pejabat negara dan tokoh partai yang sangat powerful menjadi seorang public enemy juga mengubah masa depan perusahaan-perusahaan yang selama ini menggantungkan nasib kepadanya menjadi suram. Sedangkan Pondok Pesantren DT tampak jelas sangat menyandarkan diri pada kharisma Aa Gym, sehingga ketika citra sang tokoh sentralnya tiba-tiba goyang di mata jemaah dan masyarakat, bisnisnya pun ikut limbung.

Tentu saja, contoh-contoh di atas dapat diperpanjang dengan mendaftar perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh atau menyandarkan diri pada kroni-kroni para penguasa masa dulu, yang kejayaannya ikut menyurut seiring dengan tumbangnya rezim patron mereka.

Memang, salah satu masalah umum yang kerap terjadi pada usaha keluarga yang dijalankan oleh generasi pertama adalah ketergantungan pada pendiri, pemilik, atau tokoh sentral pada perusahaan serta alpa melakukan transformasi menuju perusahaan modern yang menjalankan aktivitas usahanya berlandaskan prinsip-prinsip usaha modern. Akibatnya, begitu sang tokoh sentral meninggal, meninggalkan bisnis, atau sekedar terbelit masalah pun akan mampu menjadikan perusahaan tersebut terguncang hebat, bahkan terancam kelangsungan usahanya.

Padahal, seandainya para pendiri sebagai generasi pertama berhasil menyelesaikan misinya dengan baik pun, peralihan kekuasaan kepada generasi kedua acapkali juga tidak bebas dari masalah. Hasil survei The Jakarta Consulting Group mengenai bisnis keluarga di Indonesia belum lama ini, misalnya, menyatakan bahwa masalah suksesi atau pergantian kepemimpinan menjadi masalah terberat bagi para pebisnis keluarga. Para pengusaha ini mengkhawatirkan suksesi yang rentan dengan konflik serta kepastian kelanjutan bisnis keluarga yang digeluti.

Tentu saja, jagat bisnis di tanah air juga tidak kesulitan mencatat perusahaan-perusahaan yang sukses bertransformasi dari perusahaan keluarga yang secara tradisional sangat bergantung kepada ketokohan pendiri menjadi perusahaan yang mendasarkan aktivitas usahanya kepada sistem modern dan profesionalitas para pekerjanya. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang saat ini telah berkembang menggurita dan menjadi perusahaan terbuka yang anggun bercokol di Bursa Efek Indonesia.

Pelajaran penting yang dapat dipetik dari beberapa kasus di atas adalah bahwa setiap perusahaan perlu menyadari untuk sesegera mungkin mengurangi ketergantungan kepada persona dan mulai bertransformasi dengan menerapkan prinsip-prinsip bisnis modern yang menekankan pada sistem dan profesionalisme. Karena, usia manusia punya batas, kekuasaan bisa berganti, perilaku manusia dapat berubah, tetapi perusahaan senantiasa didirikan dengan harapan dapat berkiprah hingga waktu yang tidak terbatas.

This article has been published here.

Advertisements

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Nasib Usaha dan Ketergantungan pada Persona at Ali Mutasowifin.

meta

%d bloggers like this: