Mengundurkan Diri atau Meringkuk di Balik Jeruji

July 2, 2011 § Leave a comment

Belum lama ini terjadi sebuah peristiwa menarik dan langka dalam dunia bisnis di tanah air. Seluruh direksi dan komisaris PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) diberitakan kompak menyatakan mengundurkan diri serta membebaskan diri dari tanggung jawab atas seluruh operasional perusahaan.

Pengunduran diri sepuluh orang anggota direksi dan dewan komisaris PT IDKM tersebut merupakan bagian dari ekspresi penolakan mereka atas rencana akuisisi PT IDKM oleh PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang dinilai berpotensi melanggar hukum, yakni UU No. 32/2002 dan PP No. 50/2005.

PT EMTK yang telah memiliki 86% saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dan memiliki 99% saham SCTV secara tidak langsung (melalui SCMA) berencana mengakuisisi 27,24% saham PT IDKM yang dimiliki PT Prima Visualindo. Berkaitan dengan hal ini, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat pun telah menyampaikan pendapat resmi bahwa rencana akuisisi ini berpotensi melanggar hukum, khususnya pasal 18 dan 34 UU Penyiaran.

Pengunduran diri direksi dan dewan komisaris PT IDKM ini merupakan peristiwa langka dan seolah memberikan warna baru serta pelajaran menarik setelah munculnya beragam berita yang memberikan gambaran keliru tentang peran dan tanggung jawab komisaris, direksi, atau manajemen perusahaan.

Cerita pertama adalah terkuaknya fakta bahwa sejak 2008 Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum ternyata tercatat memiliki saham senilai Rp 35 miliar serta menjabat komisaris PT Panahatan, sementara M. Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang ditengarai tersangkut beberapa kasus korupsi di tanah air, menjabat Komisaris Utama. Menanggapi hal ini, Anas mengaku tidak pernah menerima dividen atau terlibat dalam pengambilan keputusan. Ia juga mengaku tak pernah mendapat laporan keuangan dan mengikuti rapat umum pemegang saham.

Kasus kedua tentang Yohannes Waworuntu, mantan direktur PT Sarana Reka Dinamika (SRD), yang terjerat kasus korupsi Sistem Administrasi Badan Hukum (sisminbakum) pada Kementerian Hukum dan HAM. Yohannes berkisah bahwa meskipun jabatannya adalah direktur, namun ia tidak tahu menahu mengenai aliran dana sisminbakum ke PT SRD yang berjumlah Rp 378 miliar. Ia menyebut dirinya tidak berwewenang menandatangani aliran dana tersebut dan hanya menjadi korban Hartono Tanoesoedibjo dan Hary Tanoesoedibjo yang menjadi penggagas projek sisminbakum itu.

Yohannes juga mengaku tidak memiliki pilihan lain kecuali menuruti segala perintah pemegang saham karena diancam akan dipecat bila membangkang, padahal saat itu anaknya sedang terbaring sakit dan memerlukan banyak biaya untuk pengobatannya. Akhirnya Mahkamah Agung dalam putusan kasasi memvonis Yohannes dengan hukuman 5 tahun penjara, sementara Hartono Tanoesoedibjo yang dituduhnya lebih banyak berperan malah menghilang entah kemana.

Kisah ketiga berasal dari kasus korupsi Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) Kementerian Kehutanan. Dalam persidangan sempat diputarkan rekaman bagaimana Direktur Utama PT Masaro Radiokom Putranefo A. Prayugo selalu mengiyakan segala perintah Anggoro Widjojo, sang pemegang saham mayoritas, termasuk kehendaknya dalam mengatur-atur posisi para pejabat Kementerian Kehutanan. Sementara Putranefo harus mendekam enam tahun di dalam penjara, Anggoro bahkan sekalipun tidak pernah muncul di persidangan.

Kisah berikutnya ditorehkan oleh Arga Tirta Kencana, ibunda blogger kondang Alanda Kariza. Ia divonis tiga tahun penjara karena dianggap bersalah tidak melakukan langkah-langkah ketaatan perbankan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam pemberian kredit kepada empat perusahaan yang terbukti bersalah. Dalam persidangan, mantan Kepala Divisi Hukum Bank Century Cabang Senayan ini berkilah bahwa ia menandatangani surat kuasa atas perintah atasan, dengan ancaman dikeluarkan atau diminta mengundurkan diri bila menolak perintah.

Dari nukilan beragam kasus di atas terlihat jelas bagaimana politik berkelindan erat dengan bisnis. Politisi dan partai politik memanfaatkan pengaruh politiknya untuk memburu rente dan keuntungan bisnis. Para tokoh partai besar didudukkan dalam kepengurusan perusahaan agar dapat digunakan pengaruh politiknya. Di lain pihak, dengan kekuatan modal yang dimilikinya, para pebisnis pun mampu mempengaruhi keputusan-keputusan politik, bahkan turut serta menentukan siapa menduduki posisi apa dalam pemerintahan.

Kita mengetahui bahwa relasi antara manajemen dengan pemegang saham di dalam perusahaan memang tidak selalu berjalan mulus. Relasi yang buruk bahkan menjadi salah satu sebab yang menjungkalkan banyak perusahaan, termasuk perusahaan kelas dunia sekalipun, ke jurang kebangkrutan. Praktik tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) ini pun ternyata masih banyak diabaikan oleh perusahaan-perusahaan di tanah air. Pemegang saham acapkali masih dapat dengan seenaknya mendesakkan keinginannya meskipun dengan menerabas struktur dan tata aturan organisasi yang ada, sementara direksi dan manajemen seolah bak wayang yang selalu patuh pada kehendak sang dalang. Padahal, UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas telah dengan jelas dan lengkap menerangkan rambu-rambu bagi setiap organ perusahaan. Dengan demikian, direksi dan komisaris jelas bukanlah boneka pajangan yang diangkat sekedar untuk memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.

Oleh karena itu, pengunduran diri jajaran direksi dan komisaris PT IDKM karena berkeyakinan bahwa keputusan pemegang saham berpotensi melanggar hukum ini merupakan momentum penting yang selayaknya dijadikan teladan serta pengingat oleh setiap pelaku bisnis untuk kembali berpegang teguh kepada prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Karena, tentu saja, dipecat dan kehilangan jabatan jelas lebih baik daripada harus meringkuk di balik jeruji.

The original article has been published here.

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mengundurkan Diri atau Meringkuk di Balik Jeruji at Ali Mutasowifin.

meta

%d bloggers like this: