Mereka Terpaksa Harus Kembali ke Luar Negeri

June 21, 2011 § Leave a comment

Berita tentang Ruyati binti Satubi yang dihukum pancung di Arab Saudi membuka kembali borok-borok kebijakan serta implementasi penempatan dan perlindungan buruh migran Indonesia yang tengah mengais rezeki di luar negeri.

Ruyati jelas bukan korban yang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir. Bahkan, menurut catatan Kementerian Luar Negeri sejak 1999 terdapat 303 WNI terancam hukuman mati, dengan 3 di antaranya telah dieksekusi. Sayangnya, kisah-kisah duka para pahlawan devisa semacam ini kerap hanya memperoleh perhatian dan tanggapan gegap gempita sesaat saja, namun kemudian terlupakan dan tertutupi oleh beragam kasus baru yang seolah terjadi tanpa henti.

Salah satu fakta penting dari kisah Ruyati yang tidak memperoleh perhatian mendalam adalah bahwa kepergian Ruyati yang berujung maut itu merupakan kepergiannya yang ketiga ke Arab Saudi. Meskipun usianya telah terbilang sepuh, pengalaman menjalani kontrak pertama dan kedua yang tidak menyenangkan, serta sikap keluarga yang keberatan melepasnya, desakan kebutuhan ekonomi membuat Ruyati bersikeras meninggalkan tanah air untuk kembali mengadu nasib di Tanah Arab.

Apa yang terjadi pada Ruyati yang bolak-balik harus kembali ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan hidup jelas bukanlah fenomena tunggal. Sedikit sekali, untuk tidak mengatakan tidak ada, buruh migran yang usai mengakhiri kontrak pertama kemudian memutuskan tidak kembali lagi. Sebagian besar dari mereka selalu merasa perlu kembali untuk menjalani kontrak kedua atau bahkan ketiga. Umumnya, seperti yang berlaku di Taiwan, satu masa kontrak berjangka waktu dua tahun yang dapat diperpanjang satu tahun lagi berdasarkan kesepakatan buruh dan majikan.

Yang menarik, banyak buruh migran yang bahkan merasa belum cukup meskipun telah menyelesaikan tiga kali masa kontrak, yang di banyak negara merupakan batas maksimal seseorang dapat bekerja di negara tersebut. Menyiasati hal ini, banyak di antara mereka yang kemudian membuat dokumen palsu, dan tentu saja dengan nama baru, agar dapat masuk dan kembali bekerja ke negara tersebut. Praktik semacam ini cukup lazim dan sudah menjadi rahasia umum di kalangan pekerja, sementara para majikan dan manajemen pabrik yang menerima para pekerja tersebut pun terkesan tutup mata.

Dari interaksi yang cukup intens dengan beragam kalangan buruh migran Indonesia yang sedang mengadu nasib di Taiwan, saya menyimpulkan bahwa setidaknya terdapat dua hal yang membuat para pahlawan devisa tersebut seringkali tidak merasa cukup meskipun telah menyelesaikan satu, dua, atau bahkan tiga kali masa kontrak.

Pertama, ketiadaan lapangan pekerjaan yang tersedia di kampung halaman mereka atau di daerah sekitar tempat mereka tinggal. Hal ini memaksa mereka untuk menggunakan tabungan hasil kerja di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ketika tabungan terus menipis, akhirnya tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali kembali meninggalkan keluarga guna mengadu nasib di negeri orang.

Kedua, pemanfaatan hasil kerja yang kurang tepat. Sebagian besar tenaga kerja selalu mengirimkan sebagian dari hasil jerih payah mereka di luar negeri kepada keluarga mereka di tanah air. Sayangnya, selain untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari, dana kiriman tersebut acap berubah bentuk menjadi aset-aset yang bersifat konsumtif dan tidak produktif seperti membangun rumah megah, membeli sepeda motor, televisi, kulkas, dan sejenisnya. Akibatnya, ketika pulang mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup selain menggunakan dana tabungan. Ketika tabungan telah terkuras habis, tak ada pilihan tersedia selain kembali mengadu nasib di rantau orang.

Saat ini, keadaan ekonomi di dalam negeri tidak memberikan banyak pilihan selain merelakan anak-anak bangsa mencari penghidupan di luar negeri. Memang, banyak perbaikan harus dilakukan untuk memastikan kesejahteraan dan perlindungan yang lebih baik kepada seluruh warga negara yang terpaksa harus mengais rizki di rantau orang. Namun, terdapat ikhtiar yang dapat meminimalkan keterpaksaan para buruh migran untuk terus mencari peluang kontrak kedua, ketiga, bahkan sampai perlu memalsukan dokumen agar dapat bekerja kembali ke luar negeri, dengan membekali mereka beragam persiapan setelah usai menyelesaikan kontrak pertama.

Pemerintah dapat dan perlu mengupayakan cara untuk memberikan pengetahuan kepada para buruh migran tentang cara memanfaatkan uang hasil kerjanya secara bijaksana. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan, baik sebelum keberangkatan ke luar negeri maupun selama berada di luar negeri. Materi pelatihan dapat berupa cara mendayagunakan uang yang mereka miliki dengan berinvestasi pada beragam aktiva yang produktif maupun langkah-langkah berwirausaha. Uang yang ditabung sebagai hasil bekerja pada masa kontrak pertama dapat menjadi modal awal mereka memulai usaha. Dengan berbekal pengetahuan semacam itu diharapkan uang buruh migran hasil memeras keringat, bahkan tidak jarang harus pula menyabung nyawa, tidak akan menguap sia-sia yang kemudian memaksa mereka kembali lagi mengadu nasib di negeri orang.

The original article has been published here.

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mereka Terpaksa Harus Kembali ke Luar Negeri at Ali Mutasowifin.

meta

%d bloggers like this: