Garuda Tidak Terbang Tinggi, Tetapi Menteri Tidak Peduli

Melenceng dari harapan banyak kalangan, saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) pada hari pertama melantai di Bursa Efek Indonesia langsung jatuh sebesar 17,33% dari harga perdana Rp 750 per lembar dan ditutup pada harga Rp 620 per lembar. Pada hari kedua diperdagangkan (14/2/2011), saham GIAA bahkan anjlok lebih dalam lagi ke posisi Rp 590 per lembar.

Berbeda dengan saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang laris manis, saham GIAA memang sepi peminat. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, hanya 3.327.331.275 lembar yang terserap oleh pasar, baik melalui pooling ataupun institusi, sementara sisanya sebanyak 3.008.406.725 lembar saham atau 47,48% dari total saham GIAA terpaksa harus diserap oleh penjamin emisi karena sepinya permintaan.

Menariknya, mengomentari sepinya peminat dan jatuhnya saham GIAA, Menteri Negara BUMN sebagai pejabat yang paling bertanggung jawab atas pelaksanaan privatisasi badan usaha-badan usaha milik negara malah terkesan tidak peduli. Ia mengatakan, saham GIAA yang tidak terserap dengan baik oleh pasar menjadi urusan penjamin emisi, begitu juga tanggung jawabnya untuk membeli sisa sahamnya. “Bisa saja mereka (underwriter) cari (pinjaman) ke lembaga pembiayaan atau cari siasat bisnis lainnya.Yang penting semua proses sudah kita penuhi,” ujarnya. (detikfinance/11/02/2011).

Sikap Menteri Negara BUMN yang melemparkan segala urusan kepada penjamin emisi dan dengan melakukan itu seolah tidak ada lagi masalah tersisa, jelas-jelas keliru. Bahkan sebaliknya, Menteri Negara BUMN seharusnyalah lebih peduli dengan kejatuhan saham GIAA ini, karena peristiwa ini tidak saja akan berpengaruh terhadap GIAA tetapi juga akan berdampak terhadap badan usaha-badan usaha milik negara lainnya, bukan hanya dalam jangka pendek namun juga dalam jangka panjang.

Kerugian Saat Ini

Pihak pertama yang menderita (potential loss) adalah tiga penjamin emisi yang nota bene secara tidak langsung juga dimiliki oleh negara. Tiga penjamin emisi itu, Mandiri Sekuritas, Danareksa Sekuritas and Bahana Securities, serta agen penjualan internasional UBS AG dan Citigroup Inc harus menyiapkan hampir Rp 1,8 triliun untuk menyerap seluruh saham Garuda yang tidak terserap oleh publik. Agar dapat memenuhi kewajibannya, sementara modal tak mencukupi, para penjamin emisi itu konon bahkan sampai harus berutang.

Sayangnya, menanggapi hal ini Menteri Negara BUMN hanya melihatnya sebagai masalah bisnis semata, hubungan business to business biasa serta merupakan kewajiban para penjamin emisi untuk melakukann itu. Padahal, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk menunggu harga naik hingga mencapai tingkat harga perdana, bisa dipastikan para penjamin emisi tersebut akan menjual rugi saham-saham GIAA yang dimilikinya. Dengan demikian, kehendak Kementerian Negara BUMN untuk meningkatkan value badan usaha-badan usaha milik negara bukan saja tidak tercapai, malah sebaliknya mengalami kemerosotan.

Kerugian Masa Depan

Pihak kedua yang juga menderita kerugian dari jatuhnya saham GIAA tentu saja adalah para investor, baik investor individu maupun institusi yang tercatat sebanyak 11.068 pihak. PT Jamsostek (Persero), misalnya, membeli saham senilai Rp 210 miliar. Namun, barangkali karena kedudukannya sebagai BUMN, meskipun sudah tampak jelas potential loss yang ditanggung, PT Jamsostek (Persero) tetap membela keputusan investasinya dan tidak pernah menyalahkan pelaksanaan IPO GIAA.

Sikap yang berbeda banyak ditunjukkan oleh para investor ritel. Meskipun kemungkinan kerugian telah disadari dalam setiap keputusan investasi, banyak di antara mereka yang meluapkan kekesalan mereka melalui beragam social media. Apbila benar prediksi Menteri Negara BUMN bahwa saham GIAA baru bisa menyentuh nilai seimbangnya di Rp 750 per lembar dalam waktu 6 bulan lagi, dikhawatirkan sentimen negatif ini akan terus merebak.

Alih-alih bersikap tak peduli dan pasrah menyerahkan nasib kepada pasar, persepsi negatif ini sebaiknya diantisipasi dengan cermat oleh Kementerian Negara BUMN karena bila dibiarkan akan dapat mempengaruhi upaya meningkatkan value badan usaha-badan usaha milik negara yang menjadi tupoksinya.

Berkaitan dengan hal itu, setidaknya terdapat dua kemungkinan buruk yang harus dicermati oleh Kementerian Negara BUMN. Pertama, upaya GIAA di masa depan untuk menambah modal melalui rights issue bisa menemui kesulitan karena investor masih teringat pada kerugian yang diderita saat IPO. Kedua, skeptisisme investor juga akan mempengaruhi keberhasilan rencana beberapa badan usaha milik negara yang telah dijadwalkan akan melantai di bursa tahun ini.

Abaikan Politisi dan Pengamat

Setelah babak-belur dikecam kanan-kiri saat proses IPO KRAS yang penetapan harganya dianggap terlalu rendah, Menteri Negara BUMN tampak terlihat gamang dalam pelaksanaan IPO GIAA. Menurut berita yang beredar, guna menghindari kesalahan saat IPO KRAS berulang, Menteri Negara BUMN ngotot meminta agar harga saham GIAA ditetapkan tinggi, meskipun konon hal ini berlawanan dengan pandangan para petinggi GIAA.

Bila kabar tersebut benar adanya, sungguh disayangkan bahwa Menteri Negara BUMN terpengaruh oleh pendapat serta pandangan para politisi dan pengamat yang belum tentu tepat. Dalam kasus IPO GIAA, misalnya, tidak sedikit pengamat ekonomi, bahkan yang bergelar profesor pun serta para politisi yang menilai harga pelaksanaan GIAA terlalu murah, hal mana ternyata bertolak belakang dengan persepsi pasar. Oleh karena itu, demi optimalnya hasil IPO badan usaha-badan usaha milik negara di masa mendatang, Kementerian Negara BUMN (bersama para penjamin emisi) bukan saja perlu melakukan perhitungan dengan cermat, namun juga harus lebih percaya diri dan tidak mudah dipengaruhi oleh bujukan, rayuan, atau bahkan kecaman dari para pengamat dan politisi yang pandangan-pandangannya telah terbukti kerap melenceng.

The original article has been published here.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s