Berebut Takhta Setelah Raja Tiada

1291244397284495546
Keraton Kasunanan, Surakarta (laindunia.in)

Tak lama setelah Pakubuwono XII, penguasa Kasunanan Surakarta Hadiningrat, mangkat pada 12 Juni 2004, gonjang-ganjing melanda keraton. Keributan itu dipicu oleh silang sengketa di antara 35 orang anak Pakubuwono XII dari enam orang selir tentang siapa yang berhak menduduki takhta selanjutnya. Dalam tradisi kerajaan Jawa, pengganti raja yang meninggal adalah anak lelaki tertua dari permaisuri, sementara hingga Pakubuwono XII meninggal, ia tidak mengangkat seorang permaisuri.

Perebutan takhta terjadi antara Hangabehi dan Tedjowulan, yang lahir dari ibu yang berbeda. Pertempuran memperebutkan takhta pun mencapai puncaknya ketika Agustus 2004 kubu Tedjowulan mengukuhkan perwira TNI AD itu sebagai Pakubuwono XIII. Penobatan Tedjowulan dilakukan di Ndalem Sasana Purnama, Kotabarat Mangkubumen, sekitar enam kilometer dari kompleks Keraton Surakarta. Pengukuhan dilakukan di luar keraton karena hari itu kubu Hangabehi menggembok pintu gerbang keraton. Sebulan kemudian, kubu Hangabehi melakukan tindakan sama: melantik KGPH Hangabehi juga sebagai Pakubuwono XIII. Raja kembar pun muncul kota Solo. Sejak itu, konflik makin runcing, bahkan terus berlanjut hingga kini, enam tahun setelah ayah mereka berdua mangkat.

Perseteruan itu berdampak pada kelangsungan hidup keraton. Berbagai bantuan untuk perawatan dan pengembangan budaya yang selama ini diterima, baik dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah maupun Pemerintah Kota Surakarta, menjadi terhenti. Pemerintah Daerah selalu meminta agar persoalan dua raja itu diselesaikan terlebih dahulu sebelum dana bantuan dapat dicairkan. Continue reading

Advertisements