Jangan Salahkan Anggota DPR yang Abaikan TKW

November 22, 2010 § Leave a comment

agus safari.jpg

Untuk kesekian kalinya, anggota DPR menuai kecaman dari masyarakat. Kali ini kecaman itu bersumberkan dari sikap rombongan anggota DPR yang dituduh mengabaikan sekitar 150 orang tenaga kerja wanita yang sedang kebingungan di bandara Dubai karena penundaan keberangkatan pesawat ke tanah air.

Menariknya, setelah beberapa hari dihujani kecaman, tak seorang pun anggota rombongan DPR tersebut yang berani menyampaikan pembelaan atau klarifikasi di media massa. Pembelaan hanya muncul dari pimpinan DPR dan anggota DPR lainnya yang mengaku tak ikut serta dalam studi banding tentang rumah susun di Moskow tersebut.

Ketiadaan pembelaan dari para “tertuduh” tersebut membuat masyarakat menjadi tidak menemukan pencerahan mengenai kejadian yang sesungguhnya serta alasan mereka melakukannya. Namun demikian, berdasarkan pengalaman saya, saya berprasangka baik bahwa para anggota DPR tersebut mungkin memiliki alasan kuat untuk tidak mau melangkahkan kaki membantu para pahlawan devisa yang sedang kebingungan di bandara internasional tersebut.

Selama empat tahun terakhir, saya kebetulan sering harus transit, tak jarang hingga 4 jam, di Bandara Internasional Hongkong. Di salah satu bandara paling sibuk di dunia itu, bertemu dengan orang yang berbicara dengan bahasa Indonesia adalah hal yang jamak terjadi. Buruh migran kita yang bekerja di Hongkong biasanya melewatkan waktu dengan santai dan berbelanja oleh-oleh kesana kemari. Meskipun terminal keberangkatan begitu luas dengan lebih dari 70 gate, serta gate keberangkatan yang acap berubah-ubah, karena menguasai bahasa setempat mereka sering tampak terlihat santai berjalan-jalan menanti saat keberangkatan pesawat.

Hal yang berbeda tampak pada para buruh migran Indonesia yang bekerja di Timur Tengah. Tidak jarang saya jumpai mereka hanya duduk diam membisu, padahal ada yang transit hingga 10 jam. Apabila bukan karena letih setelah perjalanan panjang, besar kemungkinan mereka merasa tak nyaman karena masalah bahasa. Di Bandara Internasional Hongkong, setiap pengumuman (penundaan, boarding, pindah gate keberangkatan, dan sejenisnya) biasanya disampaikan setidaknya dalam tiga bahasa, yakni bahasa Inggris, Mandarin, serta dialek Kanton. Para petugas bandara pun menguasai ketiga bahasa tersebut. Sayangnya, saya menduga, ketiganya tidak dipahami oleh kebanyakan buruh migran yang bekerja di jazirah Arab.

Masalah bahasa ini juga sering saya saksikan menjadi kendala mereka dalam melewati prosedur transit yang juga tidak sederhana. Berjalan jauh, naik turun eskalator, dan standar keamanan yang lebih ketat. Tas punggung berisi laptop, misalnya, yang dapat begitu saja melewati mesin pemindai di Bandara Soekarno-Hatta, di Bandara Hongkong harus dikeluarkan dari tasnya dan diletakkan pada tempat khusus. Begitu juga telepon genggam dan alat elektronik lainnya. Beberapa kali saya menjumpai kejadian orang-orang dengan paspor berlogo Garuda Pancasila yang berhasil membuat para petugas harus berulang kali mengulang perintah atau melakukan pemeriksaan khusus karena komunikasi yang tidak berlangsung dengan baik.

Saya belum pernah menginjakkan kaki di Bandara Internasional Dubai. Hanya saja, saya berprasangka baik, bahwa rombongan anggota DPR tersebut sesungguhnya ingin membantu kesulitan yang dialami oleh para pekerja yang menjadi bagian dari mereka yang mampu menyumbangkan devisa 5 miliar dollar AS setiap tahunnya itu. Jadi, persoalannya adalah para anggota DPR itu bukan tidak mau, tetapi mereka tidak mampu! Mengapa?

Pertama, banyak anggota DPR yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa Inggris. Bagaimana mereka akan dapat menolong para TKW itu, misalnya, dengan bertanya kepada pihak penerbangan atau bandara bila mereka tak mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris? Apabila Anda menduga setiap anggota DPR pasti fasih berbahasa Inggris, Anda salah besar! Kedua, rombongan anggota DPR itu juga sesungguhnya tak paham apa yang harus dikerjakan dengan tetek bengek prosedur di bandara. Itulah sebabnya mereka, mumpung dibiayai negara, juga mengajak serta petugas dari biro perjalanan wisata untuk mengatur perjalanan mereka serta menyelesaikan ini-itu.

Dalam artikelnya yang bertajuk “Teater DPR“, esais Jakob Sumardjo mengingatkan bahwa sebagian besar anggota DPR adalah nama-nama yang sebelum duduk di sana hampir tidak dikenal publik. Mungkin dikenal oleh organisasi partainya, tetapi jelas tidak dikenal secara luas di masyarakat. Mereka yang dikenal luas di masyarakat pun adalah kelompok pesohor macam artis, penyanyi dan pelawak.Dan, tiba-tiba, seperti pemulung yang menjadi patih, mereka mencecar setiap orang, bahkan seorang wakil presiden sekalipun dalam pertunjukan teater bangsa ini. Para anggota DPR ini tokoh tanpa proses. Mereka adalah produk tanpa proses!

Saya jadi teringat sebuah cerita temannya teman saya, seorang dosen di Yogyakarta. Ia pernah bercerita tentang salah seorang mahasiswa bimbingannya yang memiliki IPK 2,0. Sang dosen pun menyarankan agar sang mahasiswa mengundurkan waktu kelulusan agar berkesempatan memperbaiki nilai-nilainya yang jelek, karena dengan nilai IPK 2,0 kemungkinan ia akan kesulitan untuk mencari pekerjaan. Dengan enteng si mahasiswa menjawab, “Saya tidak akan mencari pekerjaan kok Pak, saya mau nyaleg…”

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jangan Salahkan Anggota DPR yang Abaikan TKW at Ali Mutasowifin.

meta

%d bloggers like this: