Pembangkangan dari Jawa Tengah

September 6, 2010 § Leave a comment

rdar.wordpress.com
(rdar.wordpress.com)

Setiap menjelang hari raya Idul Fitri, selalu berulang kontroversi tentang bingkisan (parcel) lebaran. Kontroversi ini dipicu oleh imbauan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kepada para penyelenggara negara dan pegawai negeri untuk tidak menerima gratifikasi terkait dengan tugas atau pekerjaan atau jabatannya. Gratifikasi ini bisa berbentuk uang, barang, diskon pembelian yang tidak wajar, voucher, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, atau bentuk lainnya. Sebagaimana disebutkan pada Pasal 12B Undang-Undang No. 31/1999 jo. No. 20/2001, setiap gratifikasi kepada penyelenggara negara atau pegawai negeri akan dianggap suap apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.

Imbauan ini secara resmi dipatuhi oleh lembaga-lembaga negara, badan-badan usaha milik negara maupun daerah, bahkan dilaksanakan juga oleh perusahaan-perusahaan swasta nasional. Mereka pun kompak menyampaikan pengumuman kepada masyarakat luas melalui media massa mengenai kebijakan pelarangan para pegawai di instansinya menerima bingkisan hari raya dalam bentuk apa pun. Ketaatan ini tentunya bukan semata-mata guna menghindari kerepotan karena keharusan melaporkan kepada KPK setiap gratifikasi yang diterima paling lambat 30 hari setelah menerimanya, namun lebih karena pemahaman tentang pentingnya makna imbauan tersebut bagi terbangunnya praktik penyelenggaraan tata kelola permerintahan (atau perusahaan) yang baik dan tidak kolutif.

Akan tetapi, ternyata tidak semua pejabat negara menaati imbauan KPK tersebut. Dua orang pejabat di Jawa Tengah terang-terangan melawan imbauan itu. Yang pertama adalah Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah. Pensiunan jenderal berbintang dua ini marah ketika ditanya soal parsel lebaran untuk para pejabat. Bibit bahkan sempat mendorong salah seorang wartawati sambil mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas. “Yang ngomong KPK goblok,” katanya dengan ketus. Seakan-akan mendukung kebijakan pemimpinnya, Tatto Suwarto Pamuji, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Cilacap malah berani secara terang-terangan membolehkan para pegawai negeri di wilayahnya menerima bingkisan lebaran. Bupati bahkan berkelakar kalaupun ada parsel bernilai tinggi, yang penting saat diterimakan tidak ketahuan.

Keberanian dua pejabat Jawa Tengah menentang imbauan KPK ini tentu memunculkan pertanyaan, karena keduanya tidak pernah secara terbuka menjelaskan alasan logis aksi pembangkangannya. Rakyat pun hanya mampu menduga-duga alasan-alasan mereka. Kemungkinan pertama, para pejabat itu telah terbiasa menerima bingkisan-bingkisan dalam keseharian mereka menjalankan tugas, sehingga bila harus menerima bingkisan serupa berkaitan dengan hari raya keagamaan dianggapnya merupakan hal yang lumrah.

Kemungkinan kedua, susah hilangnya sifat serakah. Kita bisa menghitung, berapa banyak bingkisan lebaran akan diterima oleh seorang pejabat yang sangat berkuasa di suatu daerah. Sebagai contoh, Fahira Idris, pemilik Nabila Parcel and Florist, mengaku bahwa pada 2004 ia menderita kerugian ratusan juta rupiah ketika pada 2004 KPK memberlakukan larangan pejabat negara dan pegawai negeri menerima bingkisan lebaran. Bayangkan, bila seorang penyedia layanan bingkisan lebaran saja mengalami kerugian ratusan juta rupiah, sangat mungkin omset yang biasanya dia raih bisa mencapai miliaran rupiah. Padahal ada banyak sekali pengusaha yang menyediakan layanan seperti Fahira Idris. Pertanyaannya, berapa ratus juta atau miliar rupiah yang mungkin diterima oleh para pejabat setiap perayaan hari besar keagamaan tiba? Pertanyaan lanjutannya adalah, apakah mungkin para pengirim bingkisan tersebut mengirimkannya tanpa pamrih, dan sama sekali tidak berharap para pejabat tersebut akan berutang budi dan membalasnya dengan kebijakan yang akan menguntungkannya?

Kemungkinan ketiga, para pejabat tersebut memang tidak pernah hirau dengan segala tetek bengek tata kelola pemerintahan yang baik. Bagi mereka, prinsipnya adalah kami akan menikmati apa saja yang bisa kami nikmati, mumpung kami sedang berkuasa…

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pembangkangan dari Jawa Tengah at Ali Mutasowifin.

meta

%d bloggers like this: