Ketika Rakyat Dilarang Makan Nasi dan Cabai

taken from matanews.com

Belum lama ini Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengimbau rakyat Indonesia agar untuk sementara tidak makan cabai. Hatta Rajasa mengeluarkan imbauan ini setelah sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Juni 2010 mencapai 0,97%. Inflasi tersebut paling besar didorong oleh komoditas cabai merah dengan kenaikan 45,7% selama Juni 2010. Pada akhir Juni 2010 lalu harga cabai memang sempat meroket hingga mencapai Rp 48.000 per kilogram.

“Saya saja hari ini tidak makan cabai. Coba saja kalau semua bersama-sama seminggu tidak makan cabai, nanti restoran lama- lama akan mengurangi pesanan cabainya,” jelas Hatta sambil bercanda dengan wartawan di Kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng Jakarta, Jumat (16/07/2010).

Meski mungkin disampaikan dengan nada becanda, imbauan Hatta Rajasa itu tampaknya mewakili bagaimana tidak strategisnya cara berpikir para pemimpin negeri ini. Misalnya, imbauan serupa juga disampaikan oleh Menteri Pertanian Suswono. Menurut Suswono, meskipun saat ini Indonesia sudah swasembada beras dengan produksi 63 juta ton atau surplus 3 juta ton, namun jika ketergantungan terhadap beras tidak dikurangi, kondisi ini bisa berbahaya terutama jika terjadi kemarau panjang. Oleh karena itu, ia mengeluarkan imbauan agar rakyat tidak makan nasi sehari dalam seminggu. Continue reading

Advertisements

Orang-Orang Batak dalam Sengkarut Pajak

(photo by dhoni setiawan)
(photo by dhoni setiawan)

Saat ini, barangkali Gayus Halomoan Partahanan Tambunan adalah pegawai negeri paling terkenal dan paling kaya di negeri yang masih berkubang dengan masalah korupsi ini. Meski hanya golongan IIIA, hingga saat ini kekayaan pegawai Direktorat Jenderal Pajak ini diketahui berjumlah sekitar Rp 104 miliar. Itu adalah jumlah yang telah disita dari beberapa rekening dan safe deposit box bank. Entah berapa banyak lagi pundi-pundi kekayaannya yang masih belum ditemukan oleh para penegak hukum.

Tertangkapnya Gayus Tambunan kemudian membongkar jaringan mafia pajak dan mafia pengadilan yang menyeret gerbong tersangka yang terdiri atas beragam profesi, dari pegawai pajak, polisi, pengacara, jaksa, dan juga hakim. Dengan terus bergulirnya kasus patgulipat pajak ini, bukan tidak mungkin gerbong tersangka itu akan bertambah panjang di masa mendatang.

Yang barangkali luput dari perhatian, sengkarut pajak ini ternyata melibatkan banyak orang beretnis Batak. Lihatlah misalnya, dari deretan pegawai pajak yang telah dinyatakan sebagai tersangka, Gayus menyeret Humala Napitupulu, mantan koleganya di Tim Penelaah Keberatan Pajak hingga September 2007. Selain Humala, polisi juga telah menetapkan tersangka ketiga dari jajaran fiskus, yakni Maruli Pandapotan Manurung, atasan Gayus pada kurun waktu Maret-September 2007. Continue reading