Belajar dari Ruang Kerja Sri Mulyani di Bank Dunia

June 11, 2010 § Leave a comment

Entah bagaimana nasib rencana pemugaran gedung DPR yang dikabarkan oleh para penghuninya telah mengalami kemiringan 7 derajat. Rencana itu tertutup oleh kontroversi usulan Partai Golkar untuk menggelontorkan dana aspirasi sebesar Rp 15 miliar per anggota DPR atau total Rp 8,4 triliun yang (konon) akan digunakan untuk pembangunan di daerah pemilihannya masing-masing. Jangan-jangan para anggota DPR itu sengaja melempar isu dana aspirasi yang sudah diprediksi bakal menuai kontroversi, agar rencana pembangunan gedung baru senilai Rp 1,8 triliun yang dianggap tidak sensitif di tengah penderitiaan rakyat menjadi teralihkan dari perhatian masyarakat.

Rencana DPR yang baru delapan bulan bertugas untuk membangun gedung baru di tengah kesulitan hidup mereka yang diwakilinya adalah contoh kecenderungan bangsa kita yang suka mementingkan bungkus daripada isi. Sebuah contoh lain yang amat memprihatinkan, dalam usianya yang baru 10 tahun, Lembata, sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Timur, telah memiliki tiga kantor bupati. Sungguh kebijakan yang sulit diterima akal sehat di saat sebagian besar rakyatnya masih berjuang ekstra keras untuk dapat mentas dari belitan kelaparan dan kemiskinan.

Semangat mengabaikan kinerja dan lebih mengagungkan kemasan tampaknya juga menjadi pilihan para pejabat di tingkat pusat. Kita tentu masih ingat, belum lagi bibir para menteri kering usai mengucap sumpah jabatan, mereka ngotot mengganti mobil dinasnya dengan sedan mewah berharga Rp 1,6 miliar sebuah. Seolah tidak hirau dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang pada Februari 2010 mencapai 7,41 persen, Pemerintah malah merenovasi pagar Istana Presiden dan Wakil Presiden hingga menelan anggaran Rp 22,8 miliar.

Praktik aneh dan menyimpang di atas bukan hanya monopoli para pejabat pemerintahan. Para pengusaha di negeri ini pun acap berlomba membangun citra melalui gedung kantor nan megah, mobil mewah, rumah indah, padahal kinerja usahanya hanyalah bak lampu yang menyala remang-remang dan bolak-balik harus mengandalkan proteksi penguasa dan belas kasihan perbankan.

Praktik-praktik di atas tentunya tidak terlepas dari realitas masyarakat kita yang masih sering terpesona saat melihat bungkus, dan cenderung tidak memperhatikan isinya. Sebuah pengalaman berlainan saya alami saat mengunjungi sebuah jaringan usaha di Jepang. Ruang kerja pimpinannya amat sangat sederhana, tidak luas, meja kursi sederhana, dan hampir tanpa hiasan dinding. Padahal, jaringan usaha itu memasok hampir seluruh kebutuhan perguran tinggi di negeri sakura tersebut.

sri mulyani di ruang kerjanya di bank dunia (ap photo/simone d  mccourtie-world bank)
sri mulyani di ruang kerjanya di bank dunia (ap photo/simone d mccourtie-world bank)

Contoh lebih menarik ditunjukkan oleh Sri Mulyani. Sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia yang membawahi 74 negara di wilayah Amerika Latin, Karibia, Asia Timur dan Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara, ternyata ruang kerja dan perabot di dalamnya sama sekali tidaklah istimewa. Malah, barangkali kalah jauh dibandingkan dengan segala fasilitas yang disediakan untuk seorang Menteri Keuangan Republik Indonesia. Padahal, bisa disebut Bank Dunia lah yang selama ini telah banyak memberikan pinjaman dan bantuan kepada negeri kita untuk membiayai beragam program dan projek pembangunan di tanah air.

Kita mengharapkan, rakyat yang lebih berpendidikan serta pers yang bebas akan dapat memberi peluang lebih besar bagi terbangunnya masyarakat yang lebih mengutamakan isi dan menomorduakan kemasan. Bak menilai sebuah buku, seharusnyalah kita lebih memperhatikan isi buku tersebut dan bukan malah lebih hirau pada sampul depannya…

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Belajar dari Ruang Kerja Sri Mulyani di Bank Dunia at Ali Mutasowifin.

meta

%d bloggers like this: