Jujur dalam Bisnis: Pelajaran dari Kebangkrutan Lehman Brothers

Kebangkrutan Lehman Brothers pada 15 September 2008 masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Salah satu yang menarik perhatian terungkap dalam laporan setebal 2.200 halaman yang disusun oleh Anton R. Valukas, examiner yang ditunjuk oleh Pengadilan Niaga New York, yang menyebutkan bahwa Lehman Brothers telah berulang kali menggunakan Repo 105 dan Repo 108 sebelum akhirnya tumbang.

Repo 105 dan Repo 108 (Repo 108 serupa dengan Repo 105, hanya dengan besaran persentase yang berbeda), merupakan “accounting gimmick” yang digunakan oleh Lehman Brothers untuk mengurangi jumlah kewajiban yang tercantum dalam neraca. Sayangnya, praktik ini tidak pernah disalahkan oleh Ernst & Young, auditor eksternal independen yang menangani Lehman Brothers.

Saat krisis keuangan memuncak di 2007 dan 2008, Lehman Brothers memiliki banyak aset berjeniskan commercial mortagage-backed securities (CMBS) dan subprime mortgages, yang nilainya merosot tajam dalam pasar yang tidak likuid. Menjual aset-aset tersebut guna menurunkan utang yang ada hanya akan menghasilkan kerugian belaka. Di sinilah Repo 105 memberikan jalan keluar yang menguntungkan bagi Lehman Brothers.

(photo taken from hotstoked.com)
(photo was obtained from http://www.hotstoked.com)

Sesungguhnyalah, pasar repo lazim dimanfaatkan oleh bank investasi yang sedang membutuhkan dana. Agar perusahaan pemilik dana lebih merasa aman, bank investasi acap “menjual” aset, misalnya obligasi, kepada perusahaan pemilik dana. Dengan demikian, perusahaan pemilik dana memiliki jaminan dan berkesempatan menjual obligasi tersebut bilamana bank investasi gagal melunasi pinjamannya. Biasanya, juga diperjanjikan persetujuan bank investasi untuk membeli kembali obligasi tersebut di akhir periode pinjaman termasuk pembayaran sejumlah bunga.

Dalam praktik, repo ini sesungguhnyalah transaksi pinjam-meminjam biasa, sehingga aset yang diperjanjikan dalam repo pun tetap tercantum dalam neraca bank investasi. Namun, Lehman Brothers melakukan hal yang berbeda. Tak ingin terlihat banyak meminjam uang, ia mengakali aturan dengan cara “menjual” aset miliknya lebih rendah daripada nilai sesungguhnya. Angka “105” dalam istilah Repo 105 sendiri bermakna bahwa aset itu bernilai 105% dibandingkan dengan uang yang didapatkan oleh pemilik aset. Sebagai contoh, bila Lehman Brothers memiliki obligasi bernilai US$ 105, ia akan menjualnya di pasar repo seharga hanya US$ 100.

Transaksi ini dicatat sebagai (seolah-olah telah terjadi) penjualan aset, meskipun berdasarkan perjanjian repo, Lehman Brothers akan harus membeli kembali obligasi itu dalam jangka waktu 7 sampai 10 hari. Kemudian Lehman Brothers menggunakan uang tersebut untuk membayar utang-utangnya, sehingga leverage ratio-nya menurun. Selanjutnya, usai laporan triwulan dipublikasikan, Lehman Brothers akan meminjam uang dalam jumlah yang lebih besar untuk membeli kembali obligasi tersebut.

Laporan Valukas yang dipublikasikan pada 11 Maret 2010 juga menyebutkan bahwa transaksi repo Lehman Brothers ini melibatkan jumlah uang yang tidak sedikit, bahkan pada triwulan kedua 2008 mencapai US$ 50 miliar. Praktik ini jelas memberikan gambaran yang salah dan menyesatkan tentang kondisi keuangan Lehman Brothers, karena laporan yang dipublikasikan mengesankan kondisi perusahaan yang lebih sehat dan kuat. Lehman Brothers juga tak pernah bermaksud menyingkapkan praktik ini, padahal standar akuntansi yang berlaku sebenarnya mengharuskan pengungkapannya. Bahkan sebaliknya, seorang staf senior Lehman Brothers memperingatkan bahwa reputasi perusahaan akan berisiko tercoreng bila praktik ini diketahui publik.

Padahal, andai saja Lehman Brothers berlaku jujur dan mengikuti sepenuh hati Generally Accepted Accounting Principles (Prinsip-Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum) yang berlaku, bukan tidak mungkin para pemangku kepentingan, apakah Board of Directors, Securities and Exchange Commission (SEC), lembaga pemeringkat, investor, serta pihak-pihak lainnya akan berkesempatan menerima serta mengaktifkan sistem peringatan dini (early warning system) lebih awal sehingga kebangkrutan lembaga keuangan global yang (dulu) amat dominan itu dapat dihindari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s