Saat Marah Pun Boediono Tetap Santun

Sudah dua kali Wakil Presiden Boediono hadir di Gedung DPR guna memenuhi undangan Pansus Angket Bank Century. Kesediaannya untuk hadir dan bagaimana ia menghadapi serbuan pertanyaan, gugatan, bahkan cercaan dari para anggota Pansus menunjukkan kualitas istimewa dirinya.

Perjalanan karir Boediono di Pemerintahan bisa dibilang komplit. Ia pernah menjabat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Gubernur Bank Indonesia, dan Wakil Presiden. Namun, ada sebuah jabatan lain di bidang pendidikan yang tak boleh dilupakan, yakni dia adalah juga seorang pendidik, seorang guru besar di Universitas Gadjah Mada.

Menjadi guru, tampaknya adalah pekerjaan yang amat dinikmatinya. Bahkan saat tugas-tugas sebagai pejabat negara telah menyibukkannya, ia tetap meluangkan waktunya untuk pergi ke Yogyakarta setiap akhir pekan guna membimbing para mahasiswanya. Kebiasaan dan kualitasnya sebagai pendidik ini tampaknya senantiasa terbawa saat ia menjalani beragam perannya di luar dunia akademis.

Reputasinya yang cemerlang sebagai ahli ekonomi, yang buku-bukunya bahkan telah menjadi buku pegangan para mahasiswa ekonomi sejak sekitar tiga dekade lampau, rupanya cukup menggetarkan nyali para anggota pansus. Saat pertama menghadapi Boediono pada 22 Desember 2009, para anggota pansus tampak gamang. Karena para anggota pansus tahu bahwa persidangan saat itu disiarkan langsung oleh televisi dan tak ingin terlihat bodoh di depan konstituennya, mereka tampak telah bersiap dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Kegamangan dan kegentaran itu diperlihatkan, misalnya, oleh Anna Muawanah, politisi PKB. Berulangkali ia melihat contekan saat mengajukan pertanyaan-pertanyaan, yang sesungguhnya sangat elementer dan kurang bermutu, yang dijawab dengan santai oleh Boediono. Anna tampak dengan jelas tidak siap dengan pertanyaan lain saat pimpinan sidang menyatakan pertanyaan yang diajukannya keluar dari topik yang disepakati hari itu. Untuk menutupi rasa malu, dengan ngeles ia melimpahkan kesempatan bertanya berikutnya kepada anggota pansus yang lain.

Keberanian para anggota pansus untuk bertanya hanya dari daftar yang telah dipersiapkan sebelumnya juga tampak dari bagaimana beberapa pertanyaan yang persis sama ditanyakan lagi oleh dua bahkan tiga anggota pansus yang lain. Meski mungkin geregetan, dari layar televisi tampak Boediono tetap sabar dan santun menjawab, meski selalu mengawali jawabannya dengan sindiran halus, “Tadi sebenarnya sudah saya jelaskan… “

Pada sidang pansus kedua dengan Boediono pada 12 Januari 2010, para anggota pansus tampaknya berusaha keras mengatasi kegentaran yang tak cukup berhasil mereka atasi pada pertemuan pertama sebelumnya. Namun sayangnya, ada sebagian anggota yang berusaha mengatasinya dengan cara yang keliru, seperti bersuara keras, kasar, dan mencecar. Maruarar Sirait, politisi PDIP adalah salah satunya. Bak jaksa menghadapi pesakitan, dengan pongah dan bernada tinggi ia mengejar dan mencecar Boediono dengan serentetan pertanyaan. Sama sekali tiada kesan penghargaan bahwa yang dia cecar adalah seseorang yang jauh lebih tua, wakil presiden, dan bukan pesakitan pula. Meski demikian, hebatnya, Boediono dengan santun tetap berusaha menjawabnya. Bahkan, beberapa kali Boediono memanggilnya dengan sebutan “Pak Ara”, padahal Maruarar tak lebih tua dari anaknya.

Akhirnya, setelah beberapa kali diperpanjang dari jadwal yang telah disepakati sebelumnya, pimpinan sidang pun menutup rapat. Namun, tiba-tiba Fahri Hamzah, politisi PKS mengajukan interupsi. Dengan angkuh ia mencela sikap Boediono yang dianggapnya tidak jujur dan terus terang. Ia mencontohkan penyangkalan Boediono atas adanya surat dari Zainal Abidin, mantan Direktur Pengawasan Bank Indonesia (BI), padahal Zainan Abidin mengaku di sidang pansus telah membuat surat kepada Gubernur BI perihal rekomendasi penolakan pemberian FPJP kepada Bank Century. Dengan wajah yang masih tetap tampak datar, namun tampaknya menahan kesal, Boediono menukas, “Bapak jangan mengatakan apa yang tidak saya katakan. Saya tadi mengatakan bahwa surat-surat itu semua dibahas di RDG. Semua kebijakan dibuat di RDG. Tidak ada kebijakan yang dibuat dengan surat disposisi. Bapak pergi kemana tadi?” Saya membayangkan, seandainya perdebatan itu terjadi di ruang kelas yang sedang diajarnya, barangkali ia pun hanya akan berujar, “Pak Fahri, tolong pintunya ditutup dari luar ya…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s