Pembatalan Pelantikan Wakil Menteri, Cermin Buruknya Manajemen Istana

Anggito Abimanyu dan Fahmi Idris pantas kecewa. Anggito urung dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan dan Fahmi batal menjadi Wakil Menteri Kesehatan. Juru Bicara Presiden, Julian Pasha, mengemukakan alasan penundaan pelantikan terhadap Anggito dan Fahmi adalah karena keduanya belum memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Kementerian Negara dan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, yang mensyaratkan bahwa untuk menjadi wakil menteri seseorang haruslah pernah menjabat eselon I-A.

Kejadian pembatalan pejabat nomor dua pada sebuah kementerian adalah sebuah peristiwa yang memalukan. Bagaimana mungkin Istana tidak memiliki informasi yang akurat tentang rekam jejak seseorang sebelum mengumumkan keputusannya kepada khalayak?

Kecerobohan Istana semakin jelas terlihat bila kita membaca berita bahwa Fahmi Idris dikabari tentang pembatalan pelantikannya pada pagi hari, atau hanya beberapa jam saja dari jadwal awal ia dilantik. Hal yang sama mestinya juga terjadi pada Anggito Abimanyu.

Sesungguhnya, bukan kali ini saja kesemrawutan manajemen Istana ditampakkan secara gamblang ke hadapan publik. Saat penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu II pun, Presiden secara tidak langsung telah mempertontonkan kelemahan manajemen kepemimpinannya.

Kita tentu tentu masih ingat bagaimana masyarakat terperanjat ketika Presiden tiba-tiba mengumumkan Endang Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan, padahal ia sebelumnya tak pernah tampak di depan publik menjalani fit and proper test sebagaimana kandidat menteri lainnya. Kelemahan manajemen Presiden bukan pada soal siapa yang dipilih menjadi menteri kesehatan, yang merupakan hak prerogatif dia, tetapi lebih kepada bagaimana proses pemilihannya.

Mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia Kartono Muhammad pernah bercerita kepada media massa bahwa selain Endang Rahayu Sedyaningsih, sebenarnya ada dua nama lain yang diajukan untuk menggantikan Nila Juwita Anfasa Moeloek sebagai calon Menteri Kesehatan. Namun, dari 3 orang yang diajukan itu, Endang berhasil menempati posisi tertinggi dan mengalahkan kandidat lainnya.

Kartono Muhammad selanjutnya mengisahkan, dirinya diminta untuk mencari pengganti Nila Moeloek pada Rabu (21/10/2009) pukul 06.00 WIB. Itu artinya hanya beberapa jam sebelum Presiden SBY mengumumkan nama Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II pada malam harinya. Kartono sendiri tidak menyebutkan siapa pihak yang memerintahkannya. “Mereka meminta sebelum pukul 09.00 WIB sudah ada jawaban. Dari 3 nama tersebut setelah diskor (dinilai), Ibu Endang yang paling tinggi (nilainya),” ujar Kartono.

Kejadian serupa juga terjadi pada Gita Wirjawan, yang namanya diumumkan sebagai Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada saat yang bersamaan dengan pengumuman nama para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II oleh Presiden SBY. Ia pun telah mengikuti fit and proper test di Cikeas seperti para kandidat menteri dan pejabat setingkat menteri lainnya. Tiba-tiba saja, pada hari pelantikan, namanya tidak tercantum dalam daftar pejabat yang dilantik. Mensesneg Sudi Silalahi berdalih bahwa pelantikan Gita akan dibarengkan dengan pejabat lain seperti sekretaris kabinet dan wakil menteri. Konon, Gita juga baru diberitahu pembatalan pelantikannya beberapa saat sebelum berangkat ke Istana Merdeka. Gita kemudian sempat dua kali hendak dilantik oleh Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, namun keduanya juga batal. Akhirnya, Gita Wirjawan dilantik oleh Presiden SBY bersama lima wakil menteri pada 11 November 2009.

Kejadian-kejadian tersebut memberikan gambaran bagaimana praktik manajemen di pusat pemerintahan kita selama ini. Pemilihan personalia yang akan memimpin sebuah kementerian, yang akan memebantu Presiden serta turut menentukan merah, hijau, atau birunya nasib rakyat selama lima tahun ke depan, ternyata dilakukan dalam suasana yang terburu-buru dan sulit dijauhkan dari kesan asal-asalan. Sangat jauh dari standar dan praktik yang lazim, bahkan pada perusahaan kelas ecek-ecek sekalipun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s