Lain Padang Lain Belalang, Lain Obama Lain Pula SBY

Ketika Barack Obama mengambil alih kekuasaan dari George Bush tahun lampau, ekonomi Amerika Serikat bisa disebut sedang terjun bebas. Kini, meski banyak pengamat mengatakan ekonomi Amerika Serikat sudah mulai pulih, namun deretan angka-angka yang masih mengkhawatirkan membuat pemerintahan Obama terus membuat beragam kebijakan guna memastikan kinerja ekonomi terus menuju ke arah yang lebih baik.

Di antara angka-angka yang masih buruk itu adalah tingkat pengangguran yang mencapai 10% serta tingginya defisit anggaran. Defisit anggaran belanja tahun lalu mencapai US$ 1,4 Triliun dan diharapkan sedikit menurun menjadi US$ 1,35 Triliun tahun ini, yang bila dilihat dari persentasenya terhadap Produk Domestik Bruto masih mendekati yang tertinggi sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Dalam upayanya melawan Partai Republik yang menggambarkannya sebagai pemboros, dalam State of the Union, pidato tahunan Presiden di depan Kongres yang dijadwalkan berlangsung Rabu (27/01/2010) pukul 9 malam waktu Washington D.C., Presiden Obama diharapkan akan mengajukan pembekuan selama tiga tahun program-program belanja dalam negeri serta beragam langkah lain guna mengendalikan defisit anggaran. Continue reading

Advertisements

Orang-Orang Batak di Panggung Century

Saat Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji bersaksi di depan Pansus Angket Century, terjadi perdebatan sengit antara dua orang anggota Pansus yang mewakili dua fraksi yang berseberangan, yakni Ruhut Poltak Sitompul (Fraksi Partai Demokrat) dan Maruarar Sirait (Fraksi PDI Perjuangan). Perdebatan mereka berdua yang berlangsung cukup lama tiba-tiba mengingatkan saya bahwa telah banyak tokoh Batak yang selama ini tampil dan mewarnai sidang-sidang Pansus Angket Century.

Selain kedua anggota Pansus Angket Century tersebut, terdapat dua orang Batak bermarga Nasution yang telah pernah dipanggil sebagai saksi, yakni Darmin dan Anwar. Darmin Nasution saat ini menjabat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, yang saat kebijakan bail out Bank Century dilakukan lebih setahun lampau menjabat Direktur Jenderal Pajak merangkap anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sementara itu, Anwar Nasution adalah mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia dan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan. Sesungguhnya, terdapat seorang Nasution lain, yakni Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Mulia P. Nasution, yang meski tak ditanyai, ikut mendampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani saat diperiksa Pansus Angket Century.

Selain tiga orang Nasution di atas, tiga orang bersuku Batak lain yang hadir bersaksi dari jajaran Bank Indonesia adalah Miranda Swaray Goeltom (mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia), Aulia Tantowi Pohan (mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia) dan Sabar Anton Tarihoran (mantan Direktur Pengawasan Bank Indonesia). Continue reading

Saat Marah Pun Boediono Tetap Santun

Sudah dua kali Wakil Presiden Boediono hadir di Gedung DPR guna memenuhi undangan Pansus Angket Bank Century. Kesediaannya untuk hadir dan bagaimana ia menghadapi serbuan pertanyaan, gugatan, bahkan cercaan dari para anggota Pansus menunjukkan kualitas istimewa dirinya.

Perjalanan karir Boediono di Pemerintahan bisa dibilang komplit. Ia pernah menjabat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Gubernur Bank Indonesia, dan Wakil Presiden. Namun, ada sebuah jabatan lain di bidang pendidikan yang tak boleh dilupakan, yakni dia adalah juga seorang pendidik, seorang guru besar di Universitas Gadjah Mada.

Menjadi guru, tampaknya adalah pekerjaan yang amat dinikmatinya. Bahkan saat tugas-tugas sebagai pejabat negara telah menyibukkannya, ia tetap meluangkan waktunya untuk pergi ke Yogyakarta setiap akhir pekan guna membimbing para mahasiswanya. Kebiasaan dan kualitasnya sebagai pendidik ini tampaknya senantiasa terbawa saat ia menjalani beragam perannya di luar dunia akademis. Continue reading

Pembatalan Pelantikan Wakil Menteri, Cermin Buruknya Manajemen Istana

Anggito Abimanyu dan Fahmi Idris pantas kecewa. Anggito urung dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan dan Fahmi batal menjadi Wakil Menteri Kesehatan. Juru Bicara Presiden, Julian Pasha, mengemukakan alasan penundaan pelantikan terhadap Anggito dan Fahmi adalah karena keduanya belum memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Kementerian Negara dan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, yang mensyaratkan bahwa untuk menjadi wakil menteri seseorang haruslah pernah menjabat eselon I-A.

Kejadian pembatalan pejabat nomor dua pada sebuah kementerian adalah sebuah peristiwa yang memalukan. Bagaimana mungkin Istana tidak memiliki informasi yang akurat tentang rekam jejak seseorang sebelum mengumumkan keputusannya kepada khalayak?

Kecerobohan Istana semakin jelas terlihat bila kita membaca berita bahwa Fahmi Idris dikabari tentang pembatalan pelantikannya pada pagi hari, atau hanya beberapa jam saja dari jadwal awal ia dilantik. Hal yang sama mestinya juga terjadi pada Anggito Abimanyu. Continue reading