Mimpi Berhaji Seperti Zaman Nabi

Saat ini diperkirakan sekitar tiga juta muslim dari seluruh penjuru dunia sedang menunaikan ibadah haji di Arab Saudi, yang lebih dari dua ratus ribu di antaranya berasal dari Indonesia. Karena terbatasnya kuota bagi jemaah calon haji asal Indonesia, sementara peminat berhaji selalu membludak, dibuatlah kuota per wilayah. Di beberapa wilayah tanah air, kuota ini bahkan telah penuh hingga beberapa tahun mendatang. Artinya, pun andai kita telah melunasi biaya penyelenggaraan Ibadan haji di tahun ini, kita baru akan bisa berangkat haji tiga atau empat tahun mendatang.

Mereka yang pernah berhaji kerap menyuarakan harapan untuk dapat kembali lagi mengunjungi tanah suci. Mereka acap beralasan, ada dorongan kuat untuk selalu dapat kembali berhaji. Itulah sebabnya, ada banyak orang yang merasa perlu lebih dari sekali kembali ke tanah suci. Sebaliknya, ada pula orang yang meskipun kondisi keuangannya memadai, bahkan berlebih, namun memutuskan untuk tidak pergi haji. Sebagian beralasan “belum ada panggilan”. Sebagian lain berpendapat bahwa dalam kondisi negeri seperti saat ini, maka berhaji semestinyalah bukan sebuah prioritas. Berlandaskan “fiqh prioritas” mereka berkeyakinan bahwa di saat masih banyak orang yang rela menyabung nyawa demi hanya 300 gram daging kurban, atau nekat bunuh diri karena tak mampu lagi memanggul beratnya beban ekonomi, maka hukum pergi berhaji menjadi tak lagi wajib, makruh, bahkan ada pula yang menganggapnya menjadi haram.

Dalam kesendirian, kutatap kalender yang terpampang di dinding kamar. Menghiasi halaman terakhir kalender, terpampang foto hamparan luas kemah para jemaah calon haji di Mina, yang terbelah di sana-sini oleh jalan-jalan layang nan lebar dengan bus-bus yang berseliweran. Penguasa Arab Saudi memang tampak berupaya keras menyediakan beragam fasilitas yang membuat rangkaian aktivitas beribadah haji menjadi jauh lebih mudah dan nyaman.

Namun, sebagai orang yang belum pernah pergi haji, saya sering berpikir, dengan fasilitas-fasilitas yang serba modern, mewah dan berlimpah itu tentunya tidaklah mudah bagi para jemaah haji untuk menghayati beratnya perjuangan masa lampau yang menjadi dasar napak tilas dalam ritual haji. Pelaksanaan Sa’i, berlari-lari kecil antara Safa dan Marwah, misalnya, kini dilakukan pada sebuah bangunan tertutup yang amat nyaman, berpenyejuk udara, bahkan lantainya pun dirancang untuk dingin dan nyaman di kaki. Padahal, Sa’i diniatkan untuk menapak tilas perjuangan berat Siti Hajar dalam mencari air untuk anaknya, Ismail. Saat itu, ia harus bolak-balik berlari di tengah terik panas matahari, di tengah tandus padang pasir antara bukit Safa dan Marwah.

Kegiatan lainnya pun tak berbeda jauh dengan Sa’i. Fasilitas mewah dan modern telah mengubah total wajah tempat-tempat bersejarah yang menjadi landasan pelaksanaan ritual haji. Kadang-kadang saya membayangkan, seandainya pada masa dulu penguasa Arab Saudi membangun tempat-tempat bersejarah itu menjadi sedekat mungkin dengan kondisinya pada masa lampau, suasana yang tercipta barangkali akan jauh lebih syahdu dan hikmat. Misalnya, alih-alih membangun terowongan untuk Sa’i yang tertutup, nyaman, serta berpenyejuk udara, Penguasa Dua Tempat Suci tersebut mestinya mempertahankan tanah terbuka dan berpasir antara bukit Safa dan Marwa, namun menanam beragam pohon pelindung untuk mengurangi terik sinar mentari. Dengan kondisi demikian rasanya para jemaah akan dapat lebih menghayati bagaimana beratnya perjuangan Siti Hajar kala itu, dan karenanya akan menjadi lebih berserah diri pada Illahi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s