Menilai Keluarga Capres dan Cawapres

July 27, 2009 § 2 Comments

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono sebagai pemenang Pemilu Presiden 8 Juli 2009, dengan meraih 73.874.562 suara (60,80 persen), jauh melampaui perolehan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (32.548.105 suara atau 26,79 persen) dan Jusuf Kalla-Wiranto (15.081.814 suara atau 12,41 persen).

Berikut ini adalah ulasan kemungkinan salah satu sebab kekalahan Prabowo Subianto, yang telah mampu menyumbang banyak tambahan suara dibandingkan dengan perolehan suara PDIP dan Gerindra pada saat Pemilihan Legislatif tiga bulan sebelumnya. Versi asli artikel ini dapat dilihat di sini.

Pilpres telah usai. Banyak media menampilkan gambar saat para capres dan cawapres sedang memberikan suara bersama istri/suaminya masing-masing, kecuali cawapres Prabowo Subianto, yang melenggang datang sendirian. Lima tahun mendatang, Prabowo mungkin akan menjadi calon presiden yang potensial. Namun, bukan tidak mungkin masalah foto ini akan mengganggu laju gerak politiknya.

Saya teringat, kala masih tinggal di Jakarta, sekian tahun lampau, saya sering melewati sebuah gereja di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan. Ada sebuah spanduk yang sempat bertahan lama terpampang di halaman gereja tersebut, yang masih saya ingat isinya : “Tidak ada kesuksesan yang dapat mengkompensasi kegagalan dalam rumah tangga”.

Peringatan dalam spanduk itu seperti terngiang kembali saat saya dalam penerbangan Kaohsiung-Hongkong beberapa waktu lalu. Dalam Silkroad, in-flight magazine Dragon Air, anak perusahaan Cathay Pacific, edisi Juni 2009, terdapat sebuah tulisan menarik yang salah satu penggalannya berbunyi : “Families are the pillars of society. The Confucian classic The Great Learning explains that one must know how to raise a family before running a country”.

Dalam masalah rumah tangga, cawapres Prabowo Subianto menyimpan banyak tanda tanya. Tak cukup terang nasib pernikahannya dengan Siti Hedijati Herijadi. Publik hanya mengetahui bagaimana nama putri mendiang Presiden Soeharto itu begitu saja telah berganti dari Titiek Prabowo menjadi Titiek Soeharto. Betulkah keduanya telah bercerai? Apakah penyebab perceraiannya? Apakah alasan ia berlainan agama dengan ketiga saudaranya?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas serta pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya akan memberi kesempatan kepada rakyat untuk menilai bagaimana watak, sifat, dan perilaku keseharian seseorang dalam membina keluarga, sebagai bagian terkecil dan terdekat. Banyak yang percaya bahwa bagaimana seseorang berinteraksi dengan keluarga adalah merupakan cermin terbaik untuk melihat bagaimana kelak seseorang, sebagai presiden atau wakil presiden, akan berinteraksi dengan rakyatnya.

Berbagai lembaga survei meramalkan bahwa pasangan Megawati-Prabowo Subianto hanya akan meraih sekitar 27% suara dalam pilpres tahun ini. Bila dalam pemilihan legislatif lalu PDIP meraih 14% dan Gerindra 5%, banyak yang percaya faktor Prabowo-lah yang menyumbang tambahan suara 8%. Prabowo memiliki waktu lima tahun untuk mengatur strategi guna memenangi pemilihan presiden 2014, namun persoalan keluarga itu tampaknya menjadi salah satu prioritas yang perlu dipoles bila ia ingin mulus melaju.

Advertisements

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Menilai Keluarga Capres dan Cawapres

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menilai Keluarga Capres dan Cawapres at Ali Mutasowifin.

meta

%d bloggers like this: